![]()
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya
. ~ Yohanes 10:11
Untuk mengerti “gembala yang baik”, kita harus tahu dulu: ada juga gembala yang tidak baik. Yesus langsung membandingkan: gembala yang baik dan orang upahan. Orang upahan bekerja karena dibayar. Selama situasi aman, dia ada. Tapi begitu ada bahaya, dia lari. Karena yang dia jaga bukan domba melainkan kepentingannya sendiri.
Tidak semua relasi dibangun atas kasih, banyak yang sebenarnya “relasi upahan”: selama menguntungkan kita dekat, selama nyaman kita bertahan, tapi begitu menemukan kesulitan kita mundur.
Dalam keluarga, dalam pekerjaan, bahkan dalam pelayanan di Gereja, kita bisa saja hadir tapi tidak sungguh peduli.
Yesus menantang kita hari ini: apakah kita hidup sebagai “gembala” atau “orang upahan”?
Yesus memberi ukuran yang sangat jelas: “Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”
Yesus tidak hanya berbicara tentang kasih, Ia membayar kasih itu dengan hidup-Nya sendiri. Artinya, kasih sejati selalu punya harga; mengasihi itu melelahkan, mengampuni itu tidak mudah, setia itu sering kali menyakitkan. Tapi justru di situlah kasih menjadi nyata.
Yesus juga berkata: “Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Ini relasi yang dalam. Tuhan tidak mengenal kita dari jauh, Ia tahu luka kita, tahu pergumulan kita, dan Ia tetap memilih untuk mengasihi. Yesus, Sang Gembala Baik, tidak hanya menjadi contoh. Ia memberi kita kekuatan untuk menjadi seperti Dia.
Dan mungkin kita tidak diminta untuk “memberikan nyawa” secara harfiah, tetapi setiap hari kita diberi kesempatan untuk “memberikan diri”: memberi waktu, memberi perhatian, memberi kesabaran, memberi kasih.
Di situlah kita belajar menjadi gembala yang baik dan sekaligus menjadi jawaban atas panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Yakobus I Made Suardana, SX
Misionaris Xaverian