![]()
UNDANGAN BELAS KASIH DAN PENGAMPUNAN DALAM TAHUN YUBILEUM ST. FRANSISKUS ASSISI
Para Ibu dan Bapak, saudari dan saudara yang budiman, Para Pastor, Suster, Bruder, Frater, kaum muda, remaja dan anak-anak, seluruh umat Keuskupan Padang yang terkasih dalam Kristus,
1. Pada hari Minggu Paskah Kedua, hari terakhir dari Oktaf Paskah, seperti disebut dalam Injil “delapan hari kemudian” (Yoh. 20:26) sesudah “hari pertama minggu itu” (Yoh. 20:1) Yesus menampakkan diri-Nya kepada Tomas, kembaran kita, yang selalu meragu untuk percaya, karena mau membuktikan semuanya dengan mata kepala sendiri, mau menuntut satu penjelasan yang masuk akal bagi satu kematian yang menakutkan semua orang. Maut itu tidak masuk akal! Kepada Tomas yang keras kepala ini Yesus datang, “berdiri di tengah-tengah mereka,” dan mengulangi salam yang selalu sama: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh.20:26). Bukan teguran, bukan pula cemoohan, Yesus mengundang Tomas untuk membuat apa yang dia mau: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Agungnya Tuhan kita yang begitu lemah lembut, menyerahkan diri-Nya bahkan bagi kekerasan hati Tomas Didimus, kembaran kita dalam keraguan dan kekerasan hati, tetapi juga dalam pengakuan kepasrahannya yang paling indah: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28).
2. Ibu Bapak dan Saudara-Saudari yang terkasih, Minggu Paskah Kedua ini bukan hanya Minggu Santo Tomas yang tidak percaya jika tidak melihat. Minggu ini juga Minggu Kerahiman bagi kita semua yang disebut-Nya “berbahagia, karena tidak melihat namun percaya” (Yoh.20:29). Bagi kita juga Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah kita, menghembusi kita dengan nafas hidup, membuat kita menjadi orang-orang yang paling beruntung karena “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita” (Ef. 2:4-5). Pesta Kerahiman Ilahi dirayakan pada hari Minggu Paskah Kedua seperti ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada saat kanonisasi St. Faustina dari Polandia. Pesta ini dipersiapkan dengan novena Kerahiman Ilahi selama sembilan hari berturut-turut, mulai dari hari Jumat Agung. Umat dapat menerima Indulgensi atau pengampunan secara istimewa dengan menerima Sakramen Tobat, merayakan Sakramen Ekaristi dan mendoakan ujud-ujud Bapa Suci, seperti yang telah kita lakukan pada tahun Ziarah Pengharapan yang lalu. Buah-buah Rohani dari Yubileum Biasa tahun 2025 yang baru saja berakhir masih tetap terasakan dalam “harapan yang tidak mengecewakan” (Rom. 5:5). Dalam satu kesinambungan yang harmonis, telah dibuka lagi kesempatan baru untuk bersukacita dan bertumbuh dalam kekudusan pada peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi, yakni tanggal 3 Oktober 1226.
Bersamaan dengan penutupan Yubileum biasa itu, Bapa Suci Paus Leo XIV telah menetapkan secara khusus tahun 2026 sebagai Tahun Yubileum Santo Fransiskus Assisi.
3. Memang Saudari dan Saudara, dalam beberapa tahun terakhir ini, sudah dirayakan berbagai yubileum penting yang berkaitan dengan St. Fransiskus, antara lain: peringatan 800 tahun Palungan Natal pertama di Greccio, peringatan penulisan Kidung Gita Sang Surya yang memuliakan keindahan ciptaan, serta peringatan penerimaan Luka-Luka Kudus (Stigmata) di Gunung La Verna, dua tahun sebelum wafat orang kudus itu. Tahun 2026 akan menjadi puncak dan penyempurnaan semua perayaan tersebut. Tahun itu ditetapkan sebagai Tahun Santo Fransiskus yang mengajak semua orang untuk hidup kudus di zaman ini dengan meneladani Bapak Serafikum ini.
4. Beberapa tulisan Santo Fransiskus dari Assisi menyoroti bagaimana pengalaman pribadinya ditandai dengan penemuan belas kasihan Tuhan kepadanya, yang pada gilirannya, membuka hatinya untuk berbelas kasihan juga pada sesama. Dalam Epistola ad quondam ministrum, Surat kepada seorang Minister, atau “pelayan” (demikian Fransiskus menyebut seorang pemimpin dalam Ordo), no.7-8 tertulis: “Dengan cara inilah aku ingin tahu apakah engkau sungguh mengasihi Tuhan dan juga mengasihi aku, hamba-Nya dan hambamu: yaitu, hendaknya jangan pernah ada satu pun saudara di dunia ini – betapa pun besar dosanya – yang setelah berhadapan denganmu pergi tanpa menerima pengampunanmu yang penuh bels kasih, apabila ia memintanya” (Fonti Francescani 235). Dengan kata-kata yang luar biasa itu, Santo Fransiskus bukan hanya memberikan penghiburan dan nasihat kepada saudara yang namanya tidak disebutkan, tetapi terutama menjelaskan dan menegaskan gagasan dasar tentang belas kasih, yang tidak dapat dipisahkan dari pengampunan dan indulgensi. Dan memang ada dalam tradisi fransiskan, sebuah pengampunan – yang dikenal sebagai “Pengampunan Assisi” atau “Indulgensi Porziuncola” – dianugerahkan oleh Paus Honorius III sebagai suatu hak Istimewa yang luar biasa, langsung kepada Fransiskus, bagi para peziarahnya.
5. Saudari dan Saudara yang terkasih, Porziuncola, atau “bagian kecil,” jauh lebih dari sekadar gereja kecil kuna dekat Assisi. Ini adalah jantung dan tempat lahir Ordo Fransiskan.
Awalnya sebuah kapel sederhana, yang terbengkalai dan setengah hancur, kemudian dipugar dan dirawat oleh Santo Fransiskus dari Assisi, yang menjadikannya tempat favoritnya untuk berdoa, bermeditasi, dan, yang terpenting, tempat lahirnya karyanya.
Dewasa ini, Porziuncola dari Assisi terpelihara dengan megah di dalam Basilika Santa Maria degli Angeli yang agung di Assisi. Sejarah Porziuncola terkait erat dengan momen-momen penting dalam kehidupan Santo Fransiskus: di sinilah ia memahami panggilannya, menyambut para sahabat pertamanya, dan menyaksikan kematian Santa Klara. Intinya adalah kenangan terus menerus akan kerendahan hati dan kesederhanaan orang kudus tersebut. Makna spiritual gereja kecil Porziuncola ini mencapai puncaknya dengan penetapan Hari Raya Pengampunan. Menurut tradisi, pada tahun 1216, Santo Fransiskus mendapat penglihatan di mana Yesus dan Perawan Maria menampakkan diri kepadanya dan memintanya untuk pergi kepada Paus Honorius III untuk mendapatkan indulgensi penuh itu bagi semua orang yang, setelah mengaku dosa dan bertobat, mengunjungi kapel tersebut.
Peristiwa ini melahirkan apa yang sekarang dikenal sebagai Indulgensi Porziuncola atau “Pengampunan Assisi,” yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 1 dan 2 Agustus. Ritual ini mewakili tindakan belas kasihan yang paling utama: kesempatan untuk rekonsiliasi dan penyucian bagi umat beriman.
6. Dengan semangat kemurahan hati dan sukacita yang sama seperti yang dimiliki Santo Fransiskus, ketika doanya dikabulkan oleh Paus sebagai Wakil Kristus, dan yang ia bagikan kepada orang banyak pada saat konsekrasi Porziuncola itu, Bapa Suci Paus Leo XIV mengajak kita untuk merayakan Tahun Yubileum St. Fransiskus Assisi ini. mulai tanggal 10 Januari 2026 sampai dengan tanggal 10 Januari 2027.
Dalam tahun ini setiap umat Kristiani dengan meneladani Santo Fransiskus dari Assisi, dipanggil untuk menjadikan hidupnya sendiri teladan kekudusan dan saksi perdamaian yang setia.
7. Agar tujuan-tujuan tersebut dapat tercapai dengan lebih sempurna, Penitensiaria Apostolik, melalui Dekret yang dikeluarkan sesuai dengan kehendak Bapa Suci ini, menganugerahkan Indulgensi Penuh pada kesempatan Tahun Santo Fransiskus, dengan syarat-syarat seperti biasa (pengakuan dosa, menerima Komuni Kudus dan doa sesuai dengan intensi Bapa Suci) yang juga dapat dipersembahkan bagi jiwa-jiwa di api penyucian, kepada pertama-tama keluarga Fransiskan Ordo Pertama, Ordo Kedua, serta Ordo Ketiga Reguler dan Sekuler dan kepada Tarekat Hidup Bakti, Serikat Hidup Kerasulan, dan Asosiasi Umat Beriman baik publik maupun privat, baik pria maupun wanita, yang menjalankan Aturan St. Fransiskus, terinspirasi oleh spiritualitasnya, atau melestarikan karismanya.
Kita ingat pula bahwa dalam tradisi keluarga Fransiskan, tanggal 16 April sering diperingati oleh putra putri St. Fransiskus Assisi sebagai hari Istimewa untuk membarui janji setia kepada Gereja. Dan akhirnya juga anugerah indulgensi penuh diberikan pula kepada semua umat beriman tanpa kecuali, yang dengan hati lepas bebas dari keterikatan dosa, ikut ambil bagian dalam Tahun Santo Fransiskus dengan berziarah ke gereja biara Fransiskan atau tempat ibadah di mana pun di dunia yang didedikasikan kepada St. Fransiskus atau berhubungan dengannya. Di sana mereka mengikuti perayaan yubileum, atau setidaknya meluangkan waktu untuk doa dan meditasi, serta memohon kepada Allah agar, dengan meneladani St. Fransiskus, tumbuh kasih Kristiani, kerinduan akan kerukunan, dan perdamaian antarbangsa.
Doa-doa ini diakhiri dengan doa Bapa Kami, Syahadat, serta doa kepada Santa Perawan Maria, Santo Fransiskus dari Assisi, Santa Klara dan semua orang kudus Fransiskan.
8. Mereka yang lanjut usia, orang sakit, para perawat mereka serta siapa pun yang karena alasan berat tidak dapat meninggalkan rumah, juga dapat memperoleh indulgensi penuh. Syaratnya, mereka bebas dari keterikatan dosa, berniat memenuhi syarat-syarat biasa secepat mungkin, serta menyatukan diri secara Rohani dengan perayaan Tahun Santo Fransiskus, sambil mempersembahkan doa, penderitaan, dan kesulitan hidup mereka kepada Allah yang maharahim. Agar kesempatan memperoleh Rahmat Ilahi melalui Kuasa Kunci Gereja ini dapat terlaksana dengan lebih mudah, Penitensiaria Apostolik dengan tegas meminta semua imam – baik religius maupun diosesan – yang memiliki wewenang yang diperlukan untuk melayani Sakramen Rekonsiliasi dengan kesiapsediaan, kemurahan hati dan belas kasih.
9. Para Pastor, Suster, Bruder, Frater, Bapak Ibu, Saudara Saudari dan Anak-Anak yang saya kasihi, dalam perayaan Jumat Agung itu kita telah memandang Dia yang tersalib, berkontemplasi atas lambung-Nya yang tertikam memancar air dan darah, seperti pancaran cahaya kerahiman berwarna putih dan merah yang keluar dari Yesus yang terus mau hadir pada kita, meskipun “pintu-pintu terkunci.” Dialah yang terus mendatangi kita meskipun kita terus cenderung menutup diri. Mari kita berseru dengan penuh iman dan harapan: “Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah kami yang lemah ini, rasul-rasul Kerahiman Ilahi-Mu!” Selamat Paskah!
Salam belas kasih,
Tuhan memberkati kita semua