![]()
- Bacaan I : Kis. 19:1-8
- Mazmur : Mzm. 68:2-3.4-5ac.6-7b; R: 33a
- Bacaan Injil : Yoh. 16:29-33
Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Renungan
Kita menemukan berbagai kelompok tim. Setiap anggota tim harus bekerja sama dan mempunyai kepercayaan serta komitmen satu sama lain. Kepercayaan merupakan kunci keberhasilan dari setiap kegiatan yang ingin dicapai. Selain itu di dalam tim ada kesepakatan dan perjanjian. Posisi dan peran semua pihak harus dimengerti apa yang menjadi tugasnya harus jelas. Tumbuhnya kepercayaan akan membawa hasil sesuai dengan harapan. Hubungan seperti ini terjadi oleh orang dewasa yang terbentuk atas adanya keepercayaan atas kesepakatan. Berbeda dengan kepercayaan seorang anak kecil yang terus-menerus memegang tangan ibunya. Ke manapun ibunya pergi, anak kecil itu selalu memegang tangan ibunya. Sekalipun panangannya beralih ke suatu arah yang penuh hiruk pikuknya dunia, tangannya tetap memegang tangan ibunya. Kepercayaan yang demikian adalah kepercayaan yang lahir dari relasi batin yang sangat kokoh dan tidak akan terpatahkan oleh apa pun, yang menumbuhkan relasi yang lebih otentik, dah mendalam. Rasa percaya sekarang ini dilukai oleh berbagai penipuan, meskipun kepercayaan terjadi karna relasi.
Injil hari ini berbicara tentang pengakuan para murid Yesus yang percaya akan asal usul-Nya yang datang dari Bapa. Pernyataan para murid meleset dari maksud Yesus. Pengakuan para murid atas hubungan Yesus dengan Bapa-Nya, sebatas mengerti asal usul Yesus seperti nenek moyan-Nya. Yesus menambatkan di hati murid-Nya, kepercayaan yang tumbuh dari relasi antara diiri-Nya dan Bapa. Relasi yang dibangun oleh kesatuan Bapa dengan Yesus. Relasi itulah yang hendaknya dimiliki oleh murid-murid Yesus. Yesus menantang murid-murid-Nya dengan pertanyaan: Apakah kamu percaya sekarang? Inilah ironisnya: Percaya, namun mereka akan tercerai-berai meningglkan Yesus sendirian. Di sini Yesus memberikan pengajaran tentang diri-Nya: agar mereka tetap memiliki kedamaian dalam Yesus. Sangat penting untuk memahami dengan benar rahasia sukacita yang tak terselami yang ada di dalam Yesus. Yesus terus terang mengatakan masalah yang ada di dunia. Dia meyakinkan murid-murid-Nya agar berani menghadapi dunia, dan Yesus telah menaklukkan dunia. Relasi semacam itu tidak dapat dikalahkan oleh apapun dan oleh siapapun. Kepercayaan yang ditawarkan oleh dunia ini hanya sebatas kesepakatan. Setelah tujuan atas kesepakatan selesai, kepercayaan juga akan selesai, dan tim akan bubar. Selanjutnya tinggal grup Whatshapp yang sesekali saling menyapa.
Yesus memancarkan kedamaian, kepastian, kebahagiaan yang demikian, karena cinta mengetahui bahwa Dia dikasihi oleh Bapa-Nya ( Santo Paulus VI) Kebijakan ketabahan memungkinkan seseorang untuk menaklukkan rasa taku, bahkan takut kematian. Takut menghadapi kesulitan hidup bersama dengan orang lain, bertetangga, kegagalan dalam perjuangan, relasi yang rapuh di dalam keluarga. Itu membuat seseorang bahkan meninggalkan dan mengorbankan hidupnya mencari yang damai. Namun semuanya akan menjadi kuat karena Yesus telah mengajarkan agar kita menjalin relasi yang kuat dengan Bapa seperti yang Yesus miliki. Bukan sekedar kesepakatan yang selesai setelah tujuan berhasil.
Tuhan Yesus, tingkatkanlah iman kami, dan keyakinan diri, dan selalu membina relasi yang hangat dengan-Mu. Amin.
Sr.M.Miranda Debataraja,FCJM