“Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku” ~ Yoh 21:22
Dalam Injil hari ini (Yoh 21:20-25), kita melihat sesuatu yang sangat manusiawi dari Petrus. Setelah Yesus memberikan tugas besar kepadanya, Petrus justru menoleh ke murid lain dan bertanya: “Tuhan, bagaimana dengan dia?” Ini pertanyaan yang sering juga muncul dalam hidup kita. Kita membandingkan diri: hidup orang lain, panggilan orang lain, bahkan berkat orang lain. Kita bertanya dalam hati: “Kenapa hidupnya lebih mudah?” atau “Kenapa jalannya berbeda dengan saya?”
Jawaban Yesus sangat sederahna dan tegas: “Itu bukan urusanmu. Engkau, ikutlah Aku.” Di sinilah inti iman kita. Tuhan tidak memanggil kita untuk membandingkan, tetapi untuk mengikuti. Setiap orang punya jalan sendiri. Petrus punya jalan pengorbanan, Yohanes punya jalan kesaksian. Keduanya berbeda, tetapi sama-sama berharga di hadapan Tuhan.
Masalahnya, ketika kita mulai membandingkan, kita kehilangan damai. Kita menjadi iri, tidak puas, bahkan meragukan jalan yang Tuhan berikan. Padahal Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita. Ia tahu persis apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh.
Karena itu, hari ini Yesus mengajak kita untuk kembali fokus. Bukan melihat ke samping, tetapi melihat kepada-Nya. Bukan sibuk dengan hidup orang lain, tetapi setia pada panggilan sendiri. Mengikuti Yesus berarti setia dalam hal-hal sederhana: mengasihi, mengampuni, bertahan dalam kesulitan, dan tetap percaya meski tidak selalu mengerti.
Akhir Injil ini juga mengingatkan kita bahwa tidak semua karya Yesus tertulis. Artinya, iman tidak berhenti di Kitab Suci, tetapi berlanjut dalam hidup kita. Kita dipanggil menjadi kesaksian yang hidup. Maka hari ini, mari kita dengarkan kembali suara Yesus dalam hati kita: “Engkau, ikutlah Aku.”