![]()
Hai munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, dan pada saat itu engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar yang ada di mata saudaramu.
Luk 6:24
Ada satu penyakit yang sering kita derita, tetapi jarang kita sadari: kita sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit melihat kesalahan diri sendiri. Kesalahan orang lain kelihatan jelas. Tetapi ketika orang lain menunjukkan kesalahan kita, kita langsung mempunyai seribu alasan. Itulah yang disentuh Yesus dalam Injil hari ini (Luk 6:39-42).
Yesus berkata: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” Kemudian Yesus berbicara tentang murid dan guru. Artinya, orang yang mau menuntun orang lain harus terlebih dahulu membiarkan dirinya dituntun oleh Tuhan.
Kita semua sebenarnya adalah orang yang sedang belajar. Sebagai orang tua, kita belajar menjadi orang tua. Sebagai imam, saya pun masih terus belajar menjadi murid Kristus. Karena itu, bahaya terbesar adalah ketika kita tidak lagi sadar bahwa kita mempunyai balok (kelemahan).
Lalu Yesus mempertajam: “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” Ada sepotong kecil serbuk di mata saudara kita, kita lihat. Tetapi di mata kita sendiri ada balok! Ini cara Yesus menyampaikan teguran yang tajam, kita sering membesar-besarkan kesalahan orang lain dan mengecilkan kesalahan diri sendiri.
Sebelum kita meminta Tuhan membuka mata orang lain, mari kita minta Tuhan membuka mata hati kita. Karena kadang-kadang yang perlu diubah Tuhan bukan orang yang sedang kita lihat. Yang perlu diubah adalah cara kita melihat orang itu. Sebab ketika Tuhan sudah membersihkan cara kita melihat, kita tidak lagi melihat saudara sebagai orang yang harus dihakimi, tetapi sebagai sesama yang juga sedang berjuang untuk disembuhkan oleh Tuhan.