![]()
Hari ini Gereja merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita.
Kita diajak untuk memandang Bunda Maria yang berdiri di bawah kaki Salib Putranya.
Injil berkata:
“Di dekat salib Yesus berdirilah ibu-Nya.”
Perhatikan:
Maria berdiri. Ia tidak melarikan diri, tidak meninggalkan Yesus ketika semuanya menjadi gelap. Ia tidak memahami semuanya, tetapi ia tetap tinggal.
Inilah iman Maria:
tidak selalu mengerti, tetapi tetap percaya; tidak mampu mengubah keadaan, tetapi tidak meninggalkan Tuhan.
Kita pun mempunyai salib; ada yang sedang sakit, ada keluarga yang sedang bermasalah, ada yang kehilangan orang yang dicintai, ada yang kecewa, gagal, atau merasa sendirian.
Kadang kita bertanya, “Tuhan, mengapa?”
Maria mengajarkan: mungkin kita tidak selalu mendapatkan jawaban, tetapi kita selalu bisa memilih untuk tetap berdiri bersama Tuhan.
Dan dari atas salib Yesus berkata kepada Maria:
“Ibu, inilah anakmu.”
Lalu kepada murid yang dikasihi-Nya:
“Inilah ibumu.”
Di kaki salib, Yesus membentuk sebuah keluarga baru. Maria menjadi Bunda bagi para murid, dan kita pun menerima Maria sebagai Bunda dalam iman.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan merasa kita harus menanggung semuanya sendirian. Kita mempunyai Kristus, kita mempunyai Maria, kita mempunyai keluarga dan komunitas iman. Dan mungkin kita tidak selalu mampu menghilangkan penderitaan seseorang. Tetapi kita bisa melakukan sesuatu yang sangat berarti: tetap hadir.
Seperti Maria, Ia tidak dapat mengambil salib Yesus, tetapi ia tidak meninggalkan-Nya. Maka hari ini, kalau kita sedang membawa salib, jangan lari dari Tuhan, tetaplah berdiri, tetaplah percaya, tetaplah berharap. Sebab iman bukan berarti kita tidak pernah menangis.