![]()
Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka
Luk 9:46
Siapa yang paling besar di antara kita?
Pertanyaan ini ternyata bukan hanya penyakit zaman sekarang. Para murid Yesus pun pernah memperdebatkannya. Mereka berjalan bersama Yesus, melihat mukjizat-Nya, mendengar sabda-Nya. Tetapi di dalam hati mereka masih ada satu keinginan: siapa yang paling penting?
Yesus tahu isi hati mereka, Ia mengambil seorang anak kecil, menempatkannya di samping-Nya, lalu berkata: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Mengapa anak kecil? Karena pada zaman itu anak kecil tidak punya jabatan, kekuasaan, atau prestise.
Dengan tindakan itu Yesus membalik ukuran kebesaran:
Dunia berkata: yang besar adalah yang dilayani.
Yesus berkata:
yang besar adalah yang mau melayani.
Ini sangat relevan bagi kita, karena dalam keluarga, kita ingin didengar.
Dalam pekerjaan, kita ingin dihargai.
Dalam pelayanan Gereja, kita kadang ingin posisi atau pengakuan.
Karena itu pertanyaan Injil hari ini sederhana tetapi tajam: Saya melayani karena mencintai Tuhan, atau karena ingin dilihat dan dihargai?
Kemudian Yohanes berkata bahwa mereka melarang seseorang yang bukan kelompok mereka melakukan kebaikan atas nama Yesus. Yesus menjawab: “Jangan kamu cegah.” Artinya, jangan merasa bahwa Tuhan hanya bekerja melalui kelompok kita. Kadang-kadang kita terlalu sibuk berkata, “Ini kelompok kami, ini cara kami, ini orang kami,” sampai lupa bahwa karya Tuhan jauh lebih luas daripada batas-batas kita.
Yesus mengajarkan dua hal: rendah hati untuk melayani dan luas hati untuk menerima kebaikan. Maka jangan berlomba menjadi yang paling besar. Berlombalah menjadi yang paling tulus dalam melayani. Tidak harus terkenal, tidak harus dipuji, tidak harus disebut namanya. Cukup jika melalui hidup kita, orang lain merasakan kasih Kristus.
Sebab di hadapan Tuhan, kebesaran bukanlah ketika banyak orang melayani kita, tetapi ketika hidup kita membuat orang lain mengalami kasih Tuhan.