![]()
Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
Luk 12:4
Dalam Injil hari ini (Luk 12:49-53) Yesus berkata,
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapa Aku harapkan api itu telah menyala!”
Kita mengenal Yesus sebagai pembawa damai. Tetapi mengapa hari ini Ia justru berbicara tentang perpecahan, bahkan di dalam keluarga?
Yesus tidak datang untuk mengajarkan kebencian, tetapi untuk menyalakan api kebenaran yang mengubah hidup manusia.
Dalam Injil, api melambangkan daya pemurnian dan semangat yang menghidupkan. Api Yesus membakar kesombongan, kemunafikan, ketidakadilan, dan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah.
Masalahnya, tidak semua orang siap berubah.
Ketika seseorang menolak korupsi atau berani membela orang lemah, ia mungkin dianggap aneh, bahkan dimusuhi.
Itulah sebabnya Yesus berbicara tentang perpecahan. Bukan karena Ia menghendaki permusuhan, melainkan karena kesetiaan kepada kebenaran kadang-kadang menimbulkan konflik dengan mereka yang belum siap menerimanya.
Mengikuti Yesus berarti berani bersikap tegas, tetapi tetap mengasihi. Yesus sendiri menunjukkan jalan itu. Api yang Ia bawa tidak terpisah dari salib yang harus Ia pikul. Ia bukan hanya mewartakan kebenaran, tetapi rela menderita demi kasih-Nya kepada manusia.
Hari ini marilah kita bertanya:
apakah api iman masih menyala dalam diri kita?
Ataukah
iman kita hanya tinggal rutinitas; rajin berdoa, tetapi sulit mengampuni; rajin ke gereja, tetapi tidak peduli kepada sesama?
Hari ini marilah kita bertanya:
apakah api iman masih menyala dalam diri kita?
Ataukah
iman kita hanya tinggal rutinitas; rajin berdoa, tetapi sulit mengampuni; rajin ke gereja, tetapi tidak peduli kepada sesama?
Jangan takut menjadi berbeda karena melakukan yang benar dan jangan pernah kehilangan kasih ketika memperjuangkan kebenaran.
Sebab menjadi murid Kristus bukan berarti membuat semua orang senang kepada kita, melainkan tetap setia kepada kebenaran, tanpa berhenti mengasihi sesama