![]()
Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. ~ Yohanes 10:3
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Panggilan, sebuah pengingat bahwa hubungan kita dengan Tuhan bukanlah hubungan “massal”, melainkan hubungan yang sangat pribadi.
Injil hari ini sangat menyentuh. Yesus menegaskan bahwa Ia mengenal kita satu per satu. Ia tidak berteriak kepada kerumunan, Ia berbisik ke hati kita masing-masing. Sederhana, personal, dan mendalam.
Seringkali kita merasa panggilan itu hanya untuk orang-orang “pilihan” yang berjubah. Tetapi Yesus tidak bilang begitu. Ia memanggil domba-domba-Nya—artinya semua orang yang percaya. Panggilan bukan tentang status, tapi tentang relasi.
Masalahnya: Di dunia yang bising ini, kita sering kehilangan frekuensi suara-Nya. Kita lebih cepat merespon notifikasi gadget daripada bisikan nurani.
Pintu Hidup: Yesus berkata, “Akulah pintu.” Artinya, setiap aspek hidup kita—pekerjaan, studi, hingga relasi—seharusnya “melewati” Dia agar kita menemukan padang rumput yang memberi hidup.
Keberanian “Keluar”: Ia menuntun kita keluar. Keluar dari ketakutan, keluar dari zona nyaman, dan keluar dari suara-suara “pencuri” yang merampas kedamaian batin kita.
Tuhan tidak pernah memanggil untuk membebani kita. Ia memanggil agar kita memiliki hidup yang berkelimpahan. Kesaksian hidup kita di tengah dunia yang lelah inilah yang menjadi Injil yang nyata.
Yesus juga berkata:
“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi iman yang berbuah akan menghasilkan ketenangan di tengah badai. Kita hanya perlu melangkah, dan biarkan Tuhan yang menyempurnakan.
Maka hari ini kita diajak untuk satu hal sederhana: Jangan hanya menunggu panggilan besar, tetapi jawablah panggilan kecil setiap hari. Bukan dengan khotbah panjang, tetapi lewat kejujuran dan kasih dalam keseharian kita.
Mungkin kita tidak dipanggil menjadi imam atau biarawan. Tetapi kita punya “padang rumput” kita sendiri: keluarga, kampus, dan tempat kerja. Dan di situlah kita diutus untuk menjadi saksi-Nya.
Bukan karena kita mampu, tetapi karena Ia yang memanggil senantiasa memampukan. Melangkah dengan iman, melayani dengan hati.

Yakobus I Made Suardana, SX
Misionaris Xaverian