![]()
“Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’
Mat 22:37
Injil hari ini berbicara tentang sebuah pesta pernikahan. Seorang raja mengadakan pesta besar untuk anaknya. Semuanya sudah disiDalam Injil hari ini (Mat 22:34-40), seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Dalam tradisi Yahudi, terdapat begitu banyak aturan dan ketentuan yang harus diperhatikan. Orang bisa dengan mudah terjebak dalam agama yang penuh aturan, tetapi kehilangan inti dari semuanya.
apkan. Makanan tersedia, pesta siap dimulai dan para tamu sudah diundang. Tetapi yang terjadi justru mengejutkan, mereka tidak mau datang. Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk berbicara tentang Kerajaan Allah.
Maka Yesus memberikan jawaban: Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Dan kemudian Yesus berkata: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Artinya, seluruh kehidupan beriman pada akhirnya berdiri di atas satu fondasi: kasih.
Kadang-kadang kita bisa menjadi orang yang sangat sibuk dengan agama. Kita tahu banyak doa, hafal banyak aturan, rajin mengikuti perayaan liturgi dan aktif dalam kegiatan Gereja. Semua itu baik dan penting. Tetapi Injil hari ini mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: Apakah semua itu membuat kita semakin mampu mengasihi?
Di sinilah Yesus mengingatkan kita: Ukuran kedewasaan iman bukan pertama-tama seberapa banyak doa yang kita hafal, tetapi seberapa jauh hati kita telah diubah oleh kasih. Kasih bukan tambahan dalam agama, kasih adalah pusatnya.
Setelah berbicara tentang kasih kepada Allah, Yesus langsung menambahkan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dua perintah ini tidak bisa dipisahkan. Karena Allah yang tidak kita lihat hadir dalam sesama yang kita lihat setiap hari. Maka kasih kepada Tuhan selalu harus menemukan bentuknya dalam kasih kepada sesama.
Kasih yang dibicarakan Yesus bukan sekadar perasaan hangat. Kasih adalah keputusan. Kristus sendiri menunjukkan kasih bukan hanya dengan kata-kata. Ia mengasihi sampai menyerahkan diri-Nya di kayu salib. Maka salib menjadi bukti bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia bertemu dalam satu kehidupan.