![]()
“Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga”
Mat 18:4
Mengapa Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah para murid?
Karena para murid sedang berpikir tentang siapa yang terbesar. Mereka masih memakai ukuran dunia: siapa yang paling penting, paling berpengaruh, paling dekat dengan Yesus.
Tetapi Yesus membalikkan semuanya. Ia berkata:
“Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”
Perhatikan kata “bertobat.”
Yesus tidak sekadar meminta kita menjadi polos seperti anak-anak. Ia meminta perubahan cara berpikir: dari ingin menjadi besar menurut ukuran manusia, menjadi kecil dan rendah hati di hadapan Allah. Anak kecil tahu bahwa ia membutuhkan orang lain. Ia percaya, menerima, dan bergantung. Itulah sikap iman seorang murid: bukan merasa mampu melakukan semuanya sendiri, tetapi berani berkata, “Tuhan, saya membutuhkan-Mu.”
Di sinilah spiritualitas Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus menjadi sangat indah. Teresia tidak pergi ke negeri-negeri jauh. Ia menjalani hidup yang sederhana dan tersembunyi. Namun Gereja mengangkatnya sebagai Pelindung Misi bersama Fransiskus Xaverius. Mengapa?
Karena Teresia menunjukkan:
- Misi tidak pertama-tama ditentukan oleh seberapa jauh kaki kita pergi, tetapi oleh seberapa jauh kasih kita menjangkau.
- Ia memahami bahwa Gereja membutuhkan orang yang mencintai dengan sungguh-sungguh di tempat di mana
Tuhan menempatkannya. Teresia menyebut jalannya sebagai “jalan kecil”. Jalan kecil berarti melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar.
Tuhan meminta kita melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.
Maka hari ini, kita bertanya: “Apa hal kecil yang bisa saya lakukan hari ini dengan kasih yang besar?”
Melayani keluarga dengan kasih adalah misi, mengampuni adalah misi, mendoakan orang lain adalah misi.
Sebab dalam Kerajaan Allah, yang terbesar adalah orang yang paling sungguh mencintai.