![]()
Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: ”Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.
Mat 8:3
Dalam Injil hari ini (mat 8:1-4), seorang penderita kusta datang kepada Yesus dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Perkataan ini menunjukkan iman yang luar biasa. Orang itu tidak meragukan kuasa Yesus. Ia percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkannya. Yang ia serahkan adalah kehendaknya kepada Tuhan: “Jika Engkau mau.” Inilah iman yang sejati: percaya dan berserah kepada kehendak Tuhan.
Pada zaman Yesus, orang kusta bukan hanya menderita karena penyakitnya. Mereka juga dikucilkan dari masyarakat, dijauhi oleh keluarga dan lingkungan. Mereka kehilangan relasi, harga diri, dan harapan. Karena itu, bagian yang paling menyentuh dari Injil ini adalah ketika Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu. Bagi banyak orang, penderita kusta adalah seseorang yang harus dihindari. Namun bagi Yesus, ia adalah pribadi yang harus dikasihi.
Mungkin kita tidak mengalami kusta secara fisik, tetapi kita semua memiliki “kusta” dalam hidup kita: luka batin, rasa kecewa, dosa, ketakutan, atau perasaan tidak berharga. Kadang-kadang kita merasa sendirian dan berharap ada yang memahami kita.
Kabar gembira hari ini adalah bahwa Yesus tidak menjauh dari kita. Ia datang mendekat, menyentuh luka-luka kita, dan berkata, “Aku mau.” Tuhan tidak pernah lelah mengasihi dan memulihkan kita.
Sebaliknya, Injil ini juga mengajak kita untuk meneladan Yesus. Di sekitar kita ada banyak orang yang sedang terluka, tersingkir, atau merasa tidak diperhatikan. Kehadiran, perhatian, dan sapaan sederhana dari kita bisa menjadi “sentuhan kasih Tuhan” bagi mereka.