![]()
Inilah Roti yang turun dari sorga : Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Yoh 6:50
Dalam Injil hari ini (Yoh 6:44-51) Yesus mengatakan: “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa.” Artinya: iman itu bukan pertama-tama hasil usaha kita, tetapi tanggapan atas undangan Tuhan. Kita bisa percaya, karena lebih dulu ditarik. Kadang kita berpikir iman itu soal kuat atau tidaknya kita. Seolah-olah kita harus “berhasil” percaya. Padahal justru sebaliknya: Tuhan lebih dulu bergerak mendekati kita.
Allah menarik kita: lewat pengalaman hidup, lewat Sabda yang kita dengar, bahkan lewat kegagalan dan luka, masalahnya: Apakah kita peka? Yesus melanjutkan: “Mereka semua akan diajar oleh Allah.” Artinya iman bukan sekadar belajar teori. Iman itu pengalaman dibentuk oleh Tuhan sendiri. Bukan hanya tahu tentang Tuhan, tetapi mengalami Dia bekerja dalam hidup kita.
Lalu Yesus kembali menegaskan: “Akulah roti hidup.” Sekali lagi, ini bukan soal makanan biasa. Ini soal hidup yang sejati. Ia berkata: “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Di sini Yesus mulai mengarah ke Ekaristi. Ia tidak hanya memberi ajaran, tetapi memberikan diri-Nya sendiri.
Ini yang sering kita lupa. Kita datang ke gereja, kita ikut misa, tetapi kadang kita tidak sungguh sadar: kita sedang menerima Yesus sendiri. Bukan simbol kosong. Bukan sekadar ritual. Tetapi kehadiran nyata yang memberi hidup. Lalu pertanyaannya: Kalau kita sudah menerima “roti hidup”, kenapa hidup kita masih sering terasa kosong?
Mungkin karena kita hadir tetapi tidak membuka hati. Kita menerima tetapi tidak sungguh percaya. Tuhan sudah lebih dulu menarik kita. Ia sudah memberi diri-Nya. Sekarang tinggal satu hal: apakah kita mau datang dan membuka diri?
Iman itu sederhana, tetapi tidak mudah: membiarkan diri ditarik oleh Tuhan, dan percaya bahwa Dia cukup.
Yakobus I Made Suardana, SX
Misionaris Xaverian
Posted by Fransiska Pardede