![]()
Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?
Bartimeus adalah seorang buta yang duduk di pinggir jalan; tidak melihat, tidak dianggap, dan seolah tidak berarti. Tetapi justru dari dirinya kita belajar iman yang sejati. Ketika ia mendengar Yesus lewat, ia berseru: “Yesus, kasihanilah aku!” Orang banyak menyuruh dia diam. Tetapi ia tidak berhenti, ia berseru semakin keras. Inilah iman: tidak menyerah untuk berseru kepada Tuhan, meskipun ditekan, meskipun merasa tidak layak.
Dan Yesus berhenti. Di tengah keramaian, Ia mendengar satu suara. Tuhan selalu peka terhadap hati yang sungguh mencari-Nya. Ketika dipanggil, Bartimeus menanggalkan jubahnya, satu-satunya miliknya, lalu datang kepada Yesus. Ia berani melepaskan yang lama untuk menerima yang baru. Sering kali kita ingin disembuhkan, tetapi masih menggenggam “jubah lama”: kebiasaan, luka, atau ego yang tidak kita lepaskan.
Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki?” Dan Bartimeus menjawab dengan jelas: “Supaya aku dapat melihat.” Imannya menyembuhkan dia. Tetapi yang lebih penting, Injil mencatat: ia mengikuti Yesus. Iman bukan hanya soal menerima pertolongan, tetapi tentang berubah arah hidup, dari duduk di pinggir jalan, menjadi berjalan bersama Tuhan.
Hari ini kita diajak belajar dari Bartimeus: berani berseru kepada Tuhan, tidak menyerah meski ditekan, berani melepaskan yang lama, datang dengan hati yang jujur dan akhirnya, mengikuti Yesus. Mungkin kita juga punya “kebutaan” dalam hidup: tidak melihat jalan Tuhan, tidak peka terhadap kasih atau tidak berani berubah. Maka hari ini, marilah kita berseru: “Tuhan, bukalah mataku.”