![]()
“Dengan kuasa apakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?”
Mark 11:28
Dalam Injil hari ini (Mrk 11:27-33), para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua datang kepada Yesus dengan satu pertanyaan: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Sekilas, ini terlihat seperti pertanyaan iman. Tetapi sebenarnya, ini adalah pertanyaan yang penuh kecurigaan. Mereka bukan ingin percaya. Mereka ingin mengontrol, bahkan menjebak Yesus.
Para pemimpin itu bertanya, tetapi hati mereka sudah tertutup. Mereka sudah punya jawaban sendiri dan tidak siap berubah. Dan sering kali, kita pun bisa seperti itu. Kita bertanya dalam doa: “Tuhan, mengapa ini terjadi?” “Tuhan, apa rencana-Mu?” Tetapi diam-diam kita tidak sungguh mau mendengar. Kita hanya mau Tuhan mengikuti keinginan kita.
Yesus tidak langsung menjawab. Ia justru balik bertanya tentang Yohanes Pembaptis. Karena Yesus ingin menyentuh hati mereka. Bukan sekadar memberi jawaban, tetapi membuka kejujuran mereka. Namun mereka malah sibuk berhitung. Akhirnya mereka berkata: “Kami tidak tahu.” Padahal sebenarnya, mereka tahu. Tetapi mereka tidak mau jujur. Di hadapan Tuhan, yang terpenting bukan jawaban yang pintar, tetapi hati yang jujur.
Masalah terbesar para pemimpin itu bukan kurang pengetahuan, tetapi kurang kerendahan hati. Mereka sulit menerima bahwa Tuhan bisa bekerja di luar rencana mereka. Mereka sulit mengakui bahwa mereka bisa salah. Padahal iman selalu dimulai dari kerendahan hati: berani mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya, mau belajar, mau dibimbing, mau diubah Tanpa kerendahan hati, iman menjadi kaku. Kita tahu banyak, tetapi tidak bertumbuh.
Hari ini kita diajak untuk melihat diri kita: Apakah kita sungguh mencari Tuhan, atau hanya ingin Tuhan mengikuti keinginan kita?