![]()
Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar. — Mat 13:19
Pertama, kita adalah orang-orang yang diundang oleh Allah. Dalam Injil, Yesus menggambarkan Kerajaan Surga seperti pukat yang ditebarkan ke laut dan menangkap semua jenis ikan. Ini berarti tidak ada seorang pun yang ditolak untuk datang kepada-Nya. Gereja adalah tempat di mana orang-orang berdosa datang untuk mengalami kasih dan pertobatan, bukan tempat bagi orang-orang yang merasa dirinya sudah sempurna. Menjadi umat Katolik bukan sekadar identitas, tetapi panggilan untuk hidup dalam pertobatan.
Kedua, kita dituntut untuk sungguh diubah oleh Sabda-Nya. Menjadi bagian dari Gereja saja belum cukup jika hidup kita tidak berubah. Kita bisa rajin mengikuti Misa, hafal banyak doa, bahkan aktif melayani. Namun jika kita masih sulit mengampuni, tidak jujur, mudah menghakimi, atau tidak peduli kepada sesama, berarti Sabda Tuhan belum sungguh berakar dalam hati kita.
Masalahnya: Hari ini kita sering mengira bahwa “mengerti” Injil hanyalah sebatas memahaminya dengan pikiran dan logika. Kita merasa cukup dengan rutinitas ibadah kita. Padahal, Yesus ingin mengajarkan bahwa mengerti yang sesungguhnya berarti membiarkan Sabda itu sungguh-sungguh membentuk cara kita hidup dan bertindak sehari-hari.
Panggilan Kita: Dalam Injil, Yesus bertanya kepada para murid, “Mengertikah kamu semuanya itu?” Yesus ingin kita menyadari bahwa setiap hari kita sedang dihadapkan pada pilihan: hidup dalam kasih atau egoisme, dalam kejujuran atau kepalsuan, dalam pengampunan atau dendam. Pilihan-pilihan kecil itulah yang perlahan membentuk siapa diri kita di hadapan Tuhan. Yesus tidak hanya ingin kita mendengarkan, tetapi Ia memanggil kita untuk bertindak.
-
Tuhan memakai pilihan-pilihan kecil kita setiap hari untuk membuktikan apakah Sabda-Nya berakar dalam hati kita.
-
Tuhan memakai kehadiran kita untuk menjadi saksi nyata yang membawa damai bagi sesama.
Karena dunia saat ini membutuhkan lebih banyak orang yang sungguh-sungguh menjadi murid Kristus: murid yang kehadirannya membawa damai, yang perkataannya menguatkan, dan yang tindakannya senantiasa memancarkan kasih Tuhan.
Maka hari ini kita diajak untuk satu hal sederhana: Jangan puas hanya menjadi Katolik, tetapi sungguh menjadi pelaku Sabda. Jadilah saksi-Mu yang siap memancarkan kasih di mana pun kita ditempatkan oleh: Yesus sendiri.
“Saya diundang oleh Allah, diubah oleh Sabda-Nya, dan diutus menjadi kesaksian kasih bagi sesama.”
Semoga Ekaristi yang kita rayakan hari ini menguatkan kita untuk pulang dengan semangat baru: menghadirkan kasih dan damai Kristus di dalam keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.
“Sebab menjadi pengikut Kristus bukan sekadar soal rutinitas ibadah dan identitas, melainkan keberanian membiarkan Sabda-Nya sungguh-sungguh mengubah cara kita hidup dan mengasihi.”

Yakobus I Made Suardana, SX
Misionaris Xaverian