Search

Mencari Tuhan dalam keheningan

Loading

Ada yang istimewa dalam Perayaan Ekaristi Minggu (9/8) di Paroki St. Paulus Pekanbaru. Perayaan kali ini dipersembahkan oleh P. Yulianus Agung, SX, atau yang akrab disapa Pastor Lian, yang baru 17 hari sebelumnya menerima tahbisan imamat di Padang, Sumatra Barat.

Pastor Lian ditahbiskan pada 24 Juli 2026 bersama P. Yunis Martinus Zalukhu, SX, dan P. Valerius Jan Nahak, SX. Setelah Misa Tahbisan, Perayaan Ekaristi di Paroki St. Paulus menjadi salah satu kesempatan pertamanya berhadapan langsung dengan umat dalam jumlah yang besar.

Kredit foto : Komsos Keuskupan Padang

“Setelah Misa Tahbisan kemarin, baru kali ini saya berhadapan dengan umat sebanyak ini. Jadi, kalau sedikit gugup, mohon dimaklumi. Imam baru, soalnya,” sapa Pastor Lian mengawali homilinya, disambut senyum dan tawa umat.

Bacaan Kitab Suci pada Minggu ini menjadi pesan yang kuat untuk meneguhkan iman. Melalui kisah Nabi Elia, Tuhan menunjukkan bahwa kehadiran-Nya tidak selalu ditemukan dalam sesuatu yang besar dan menggelegar. Tuhan tidak hadir dalam angin ribut, gempa, ataupun kobaran api, melainkan dalam keheningan.

“Carilah Tuhan dalam keheningan. Dalam keheningan, kita akan menemukan suara Allah.”

Pastor Lian kemudian mengajak umat melihat pengalaman para murid Yesus ketika menghadapi badai. Dalam situasi penuh ketakutan, persepsi mereka menjadi keliru. Sosok yang berjalan di atas air bahkan mereka kira sebagai hantu, padahal yang datang adalah Tuhan sendiri.

Pengalaman itu juga mengingatkan kita pada Petrus. Ada banyak pengalaman keraguan Petrus dalam perjalanan bersama Yesus. Demikian pula dengan kita. Dalam berbagai situasi kehidupan, kita pun dapat mengalami keraguan dan ketakutan.

Namun, di tengah segala kelemahan dan keraguan manusia, Yesus tetap datang menolong. Ia mengulurkan tangan dan tidak pernah menghukum. Sapaan-Nya, “Tenanglah, jangan takut, ini Aku,” menjadi pesan yang begitu dalam: seburuk apa pun kondisi kehidupan yang kita hadapi, Tuhan tetap hadir dan tidak pernah meninggalkan kita.

Tentunya, dibutuhkan iman untuk percaya kepada Yesus. Namun, percaya bukan sekadar datang ke gereja, duduk, dan merasakan kehadiran Tuhan. Iman juga berarti berani mengakui dan menghidupi kepercayaan kita kepada-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya yakin, di Indonesia bukan hal yang mudah untuk mengimani Yesus di tengah kelompok kita yang minoritas,” sambung Pastor Lian.

Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan sekaligus menguatkan kita untuk tetap percaya. Di tengah berbagai badai kehidupan, kita diajak untuk tidak dikuasai oleh ketakutan, melainkan belajar tenang. Sebab, justru dalam ketenangan dan keheningan, kita dapat mendengarkan dan menemukan Allah yang hadir di tengah kehidupan kita.

“Semoga kita yang hadir di sini, setelah pulang dari perayaan ini, tetap percaya dan mau mengakui iman Katolik kita,” tutup Pastor Lian, yang saat ini sedang melanjutkan studi Teologi Dogmatik di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma.

Foto : Komsos Kurniadi
Live Streaming : Komsos (Ridwan, Firsty, Felix, Amadeus)
Editor: Mega
Kasih Kristus Mendorong Kita

JADWAL PELAYANAN & KEGIATAN

TERBARU

LIVE STREAMING
DUKUNGAN UNTUK PENGELOLAAN SITUS PAROKI
SCAN ME
logo-komsos-baru.png