![]()
Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku
Mat 13:30
Kalau kita melihat dunia hari ini, kadang kita bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau begitu sabar? Mengapa orang jahat masih dibiarkan? Mengapa kejahatan masih terus ada?” Pertanyaan itu dijawab oleh bacaan hari ini.
Dalam bacaan pertama, Kitab Kebijaksanaan mengatakan bahwa Allah itu Mahakuasa, tetapi kuasa-Nya justru tampak dalam belas kasih. Tuhan mampu menghukum, tetapi Ia memilih memberi kesempatan. Mengapa? Karena Allah tidak ingin menghancurkan orang berdosa, melainkan mengubah hatinya.
Dalam Injil, Yesus menceritakan tentang gandum dan lalang. Para hamba ingin segera mencabut lalang, tetapi tuannya berkata, “Biarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu panen.” Tuhan bukan membiarkan kejahatan. Tuhan sedang memberi waktu agar manusia bertobat. Seandainya Tuhan menghukum setiap orang seketika saat berbuat salah, mungkin tidak ada satu pun dari kita yang masih berdiri di sini. Kita semua hidup karena kesabaran dan belas kasih-Nya.
Injil hari ini juga mengajak kita untuk tidak sibuk mencari “lalang” dalam hidup orang lain. Kita sering cepat melihat kesalahan orang lain, tetapi lupa bahwa di dalam hati kita pun masih ada “lalang”: ego, kemarahan, iri hati, atau sulit mengampuni.
Maka sebelum meminta Tuhan mengubah dunia, marilah kita terlebih dahulu berkata, “Tuhan, ubahlah hatiku.” Sebab perubahan besar selalu dimulai dari hati yang mau disentuh oleh rahmat Allah.
Marilah kita hidup hari ini dengan satu keyakinan yang sederhana tetapi menguatkan: Kesabaran Tuhan bukan berarti Ia membiarkan kejahatan. Kesabaran-Nya adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus