![]()
“Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara.”
Mat 14:10
Ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan hari ini: Mengapa begitu sulit mengatakan yang benar, padahal kita tahu itu benar? Banyak orang tahu mana yang benar, tetapi sedikit yang berani memperjuangkannya. Sebab kebenaran hampir selalu menuntut pengorbanan. Kebenaran tidak hanya membutuhkan mulut yang berbicara, tetapi hati yang berani membayar harganya. Inilah yang kita lihat dalam Injil hari ini.
Yohanes Pembaptis dipenjara, bukan karena mencuri, bukan karena memberontak, bukan karena melakukan kejahatan. Ia dipenjara hanya karena mengatakan kepada Raja Herodes: “Tidak halal engkau mengambil Herodias, istri saudaramu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung keberanian yang luar biasa. Yohanes tahu siapa yang sedang ia hadapi. Ia berbicara kepada seorang raja yang memiliki kuasa untuk menentukan hidup dan matinya. Namun Yohanes tidak mengukur kebenaran berdasarkan siapa yang berkuasa. Ia mengukur semuanya berdasarkan kehendak Allah. Di sinilah kita melihat perbedaan antara orang yang mencari keselamatan dirinya dan orang yang mencari kehendak Tuhan.
Yohanes Pembaptis mengajarkan bahwa menjadi murid Kristus berarti berani mempertahankan kebenaran, sekalipun tidak selalu menguntungkan. Mungkin kita tidak dipanggil menjadi martir seperti Yohanes, tetapi setiap hari kita dipanggil menjadi saksi Kristus: jujur dalam pekerjaan, setia dalam keluarga, adil terhadap sesama, dan berani berkata “tidak” terhadap dosa.
Maka marilah kita memohon kepada Tuhan agar diberi keberanian seperti Yohanes Pembaptis: keberanian untuk hidup benar, berkata benar, dan bertindak benar.