![]()
Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
Mat 20:15
Injil hari ini (Mat20:1-16) menceritakan sebuah perumpamaan dimana para pekerja yang datang sejak pagi merasa tidak adil ketika mereka melihat pekerja yang datang pada sore hari menerima upah yang sama.
Padahal Mereka menerima persis seperti yang dijanjikan. Masalahnya bukan pada upah, melainkan mereka tidak tahan melihat tuannya bermurah hati kepada orang lain.
Karena itu tuan itu berkata: “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?” Inilah yang sering terjadi dalam hidup kita. Kita tidak selalu sedih karena Tuhan tidak memberkati kita, kadang kita sedih karena Tuhan memberkati orang lain.
Tanpa sadar, kita kadang mengubah pelayanan menjadi perhitungan: “Saya sudah melakukan banyak untuk Tuhan, maka Tuhan harus memberikan lebih kepada saya.” Padahal Injil mengajarkan: kita semua hidup karena rahmat. Orang yang datang pagi dan orang yang datang sore sama-sama menerima kemurahan hati Tuhan.
Inilah kedewasaan iman: bukan hanya mampu bersyukur ketika saya diberkati, tetapi mampu bersukacita ketika orang lain diberkati. Orang-orang yang datang pada jam terakhir berkata, “Tidak ada orang yang mengupah kami.” Mereka bukan menolak bekerja. Mereka hanya belum mendapat kesempatan, maka Tuhan tetap mencari mereka.
Ini kabar gembira bagi kita:
Tidak pernah ada kata terlambat untuk kembali kepada Tuhan.
Orang yang baru bertobat atau baru kembali ke Gereja, tetap mempunyai tempat dalam kebun anggur Tuhan. Maka kita diundang untuk menjadi Gereja yang mampu berjalan bersama.”
Hari ini mari kita bertanya: Apakah saya sungguh bersyukur atas rahmat Tuhan, atau saya masih sibuk menghitung jasa saya dibandingkan dengan orang lain? Sebab pada akhirnya, kita semua adalah pekerja di kebun anggur Tuhan, semuanya hidup dari satu kemurahan hati yang sama: kasih Allah.