![]()
Hari ini para murid datang kepada Yesus dengan sebuah permintaan: “Tuhan, ajarlah kami berdoa.” Sebab mereka melihat sesuatu dalam diri Yesus. Yesus bukan hanya orang yang berbicara tentang Allah; Yesus adalah orang yang hidup dari hubungan yang mendalam dengan Bapa.
Dan Yesus memberikan kepada mereka doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Yesus tidak pertama-tama mengajar kita meminta kesehatan, rezeki, keberhasilan, atau supaya masalah kita selesai. Yang pertama adalah: “Dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu.”
Artinya, doa kita pertama-tama bukan tentang “Tuhan, lakukan apa yang saya mau,” tetapi tentang “Tuhan, jadikan hidup saya sesuai dengan kehendak-Mu.” Barulah setelah itu kita berkata: “Berikanlah kami setiap hari makanan yang kami perlukan.” “Berilah kami pengampunan.” “Jangan masukkan kami ke dalam pencobaan.”
Jadi doa bukan cara untuk memaksa Allah mengikuti keinginan kita. Doa adalah jalan supaya hati kita dibentuk menjadi serupa dengan kehendak Allah. Dan di sinilah kita memahami Maria, Ratu Rosario. Rosario bukan sekadar mengulang salam Maria lima puluh kali. Tetapi Rosario yang sejati adalah sekolah untuk belajar memandang Kristus bersama Maria.
Maria tidak mengambil tempat Yesus. Justru Maria selalu membawa kita kepada Yesus. Di Kana ia berkata, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.” Inilah inti spiritualitas Rosario: memandang Kristus, mendengarkan Kristus, dan belajar melakukan kehendak Kristus.
Ketika kita mendoakan Rosario, kita masuk ke dalam misteri kehidupan Yesus: kelahiran-Nya, pelayanan-Nya, sengsara-Nya, wafat-Nya, kebangkitan-Nya, sampai kemuliaan-Nya. Karena itu, Rosario bukan pelarian dari kehidupan.
Rosario justru mengajar kita menghadapi kehidupan bersama Kristus. Rosario mengajak kita berhenti sejenak untuk mengembalikan pusat hidup kita kepada Kristus. Sebab Rosario yang sejati adalah jalan bersama Maria menuju Kristus.