![]()
“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” ~ Yoh 17:21
Dalam Injil hari ini, kita diajak masuk ke sebuah momen yang sangat intim: doa Yesus sebelum sengsara-Nya. Ini bukan sekadar doa biasa. Ini adalah doa terakhir, doa yang keluar dari hati yang tahu bahwa waktu-Nya hampir selesai. Dan menariknya, Yesus tidak hanya berdoa untuk para murid yang ada di hadapan-Nya saat itu tetapi juga untuk kita.
Yesus berkata: “Aku berdoa supaya mereka semua menjadi satu.” Dari sekian banyak hal yang bisa Yesus doakan, Ia justru memilih satu hal utama: persatuan. Karena Yesus tahu, perpecahan adalah luka terdalam dalam kehidupan manusia. Kita bisa lihat sendiri: dalam keluarga, dalam Gereja, dalam masyarakat, yang sering menghancurkan bukanlah kekurangan kemampuan, tapi kurangnya kesatuan. Ego lebih besar dari kasih, pendapat lebih penting daripada persaudaraan.
Yesus tidak hanya meminta kita “rukun” secara lahiriah. Ia meminta sesuatu yang jauh lebih dalam: “Supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” Artinya, persatuan yang Yesus inginkan bukan sekadar tidak bertengkar. Tapi persatuan yang bersumber dari kasih Allah sendiri. Persatuan yang lahir dari relasi yang hidup dengan Tuhan.
Sering kali kita berpikir:
“Saya bisa mengasihi orang lain kalau dia baik.”
Tapi Injil hari ini membalik cara berpikir itu: Kita bisa mengasihi karena kita lebih dulu dikasihi.
Yesus berkata:
“Engkau telah mengasihi mereka sama seperti Engkau mengasihi Aku.”
Allah mengasihi kita sama seperti Ia mengasihi Yesus sendiri.
Ini luar biasa. Tapi sering kali kita tidak sadar akan kasih itu. Kita hidup seolah-olah harus membuktikan diri, harus menang, harus lebih dari orang lain.
Yesus juga berkata sesuatu yang sangat tajam:
“Supaya dunia percaya…”
Artinya, persatuan kita adalah kesaksian iman.
Dunia tidak pertama-tama melihat seberapa pintar kita berdiskusi tentang iman, tapi seberapa nyata kita saling mengasihi.