![]()
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segala kekuatanmu”
Markus 12:30
Dalam Injil hari ini (Mrk 12:28b-34), seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”
Dan Yesus menjawab dengan sangat jelas:
“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Sering kali kita berpikir iman itu soal aturan: apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang wajib dan apa yang dilarang, semua itu penting. Tetapi Yesus mengajak kita masuk lebih dalam: inti iman adalah kasih. Bukan sekadar melakukan yang benar, tetapi mengasihi dengan sungguh. Karena orang bisa taat aturan, tetapi hatinya jauh dari Tuhan.
Yesus tidak berkata “cukup mengasihi Tuhan”, tetapi dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, artinya total. Tuhan menjadi pusat hidup. Mengasihi Tuhan berarti: melibatkan hati dalam doa, menggunakan akal budi untuk mencari kebenaran, memakai tenaga dan waktu untuk hal yang baik. Iman bukan hanya di kepala, tetapi menyentuh seluruh hidup.
Yesus langsung menghubungkan dua hal:
- kasih kepada Tuhan dan
- kasih kepada sesama.
Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Kita tidak bisa berkata: “Saya mengasihi Tuhan” tetapi membenci orang lain, rajin berdoa, tetapi tidak peduli pada sesama. Kasih kepada Tuhan menjadi nyata dalam cara kita memperlakukan orang lain. Justru di situlah iman diuji.
Hari ini kita diingatkan bahwa iman kita tidak diukur dari: seberapa banyak kita tahu, seberapa sering kita beribadah. Tetapi dari satu hal: seberapa dalam kita mengasihi. Mengasihi Tuhan dengan seluruh hidup, dan mengasihi sesama dengan tulus.