![]()
Pernahkah kita merasa Tuhan datang terlambat? Kita sudah lama berdoa, tetapi masalah belum selesai. Kita memohon kesembuhan, tetapi justru kehilangan orang yang kita kasihi. Mungkin tanpa sadar kita pernah berkata seperti Marta, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Kalimat Marta bukanlah tanda ia kehilangan iman. Itu adalah ungkapan hati yang sedang terluka. Dan yang indah, Yesus tidak menyalahkan Marta. Ia mendengarkan keluh kesahnya.
Di sinilah kita belajar bahwa iman tidak berarti kita tidak pernah menangis. Iman bukan berarti kita selalu mengerti rencana Tuhan. Iman berarti kita tetap datang kepada Tuhan, bahkan ketika hati kita penuh dengan pertanyaan.
Lalu Yesus mengucapkan kalimat yang menjadi pusat Injil hari ini: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Yesus tidak langsung menjelaskan mengapa Lazarus harus mati. Sebaliknya, Ia menawarkan diri-Nya sendiri. Seolah-olah Yesus berkata, “Mungkin engkau belum mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi percayalah, Aku tetap menyertaimu.”
Kemudian Yesus bertanya kepada Marta, “Percayakah engkau akan hal ini?” Perhatikan, Yesus tidak bertanya, “Apakah engkau sudah mengerti semuanya?” Ia hanya bertanya, “Apakah engkau percaya?” Dan Marta menjawab dengan penuh keyakinan, “Ya Tuhan, aku percaya.”
Mungkin hari ini kita sedang memikul beban keluarga, kesehatan, pekerjaan, atau masa depan. Bawalah semuanya kepada Yesus seperti Marta. Jangan takut menyampaikan isi hati kita kepada-Nya.
Karena di saat kita tidak mampu memahami jalan Tuhan, kita tetap dapat mempercayai hati Tuhan. Hati-Nya selalu penuh kasih, dan kasih-Nya tidak pernah terlambat. Apa yang menurut kita terlambat, sering kali justru menjadi saat yang paling tepat menurut rencana-Nya.
.
#katolikadgentes
Jangan lelah mempertahankan iman di tengah dunia yang sering menertawakan kesetiaan.
Yakobus I Made Suardana, SX
Misionaris Xaverian