Search

Jati Diri Gereja “Menentukan” Spirit dan Dinamika Pelayanan

Loading

Pekanbaru, Rabu, 10 September 2025 – Aula Paroki Santo Paulus menjadi tempat perjumpaan iman dalam rekoleksi yang dipimpin oleh Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX, Uskup Padang. Acara ini dihadiri oleh pengurus DPP, Dewan Keuangan Paroki, para pengurus stasi dan kring, serta kelompok kategorial.

Tema rekoleksi kali ini adalah “Spiritualitas Pelayanan dalam Berjalan Bersama”, dengan penekanan bahwa jati diri Gereja menentukan spirit dan dinamika pelayanan.

Pembukaan Acara

Pertemuan dibuka pukul 18.56 oleh Pastor Yakobus Kadek Suardana, SX. Dalam sambutannya beliau menyampaikan,

“Kehadiran Bapa Uskup merupakan rahmat yang akan membawa buah kehidupan berkualitas dalam pelayanan dan kebersamaan.”

 

Maria Magdalena Huiniati, Wakil Ketua DPP, turut menyampaikan salam sekaligus permohonan maaf atas ketidakhadiran Pastor Paroki yang sedang mengurus perpanjangan izin tinggal di Indonesia. Sebelum sesi dimulai, peserta diajak melantunkan lagu gerak “Jalan serta Yesus” sebagai pembuka suasana.

Gereja yang Berjalan Bersama

Dalam pengantarnya, Mgr. Vitus mengajak peserta melihat kembali jati diri Gereja. Ia menegaskan bahwa sinodalitas — berjalan bersama — bukanlah gagasan baru, melainkan watak Gereja sejak awal.

Beliau mengingatkan,

  • Sinodalitas adalah sesuatu yang dinamis, bukan statis.

  • Sejak awal, Gereja sudah dipahami sebagai umat yang berjalan bersama.

  • Keluarga Kudus Nazaret menjadi teladan: Yusuf dan Maria senantiasa dalam perjalanan — ke Betlehem, ke Yerusalem, selalu bergerak bersama Yesus.

Sinodalitas ini juga dikaitkan dengan tema Tahun Yubileum 2025: peziarahan pengharapan. “Berziarah berarti berjalan dengan tujuan. Harapan adalah jangkar yang membuat kita tidak hanyut,” tegasnya.

Pengharapan yang Melampaui Harapan

Bapa Uskup menyinggung Roma 4:18, iman Abraham yang tetap percaya meski situasi tampak mustahil.

“Beriman dalam pengharapan semacam itu berarti meloncat keluar menuju Allah meskipun dalam kegelapan, karena percaya bahwa penyerahan diri sepenuhnya itu akan disambut oleh Allah.”.”

Iman yang sejati, lanjut beliau, bukan tanpa jatuh bangun. Justru melalui jatuh dan bangun, iman dan pengharapan dibentuk.

Pertanyaan Reflektif

Peserta diajak untuk berefleksi melalui beberapa pertanyaan pribadi, seperti:

  1. Apakah saya sungguh sedang dalam perjalanan, atau justru berhenti karena takut, putus asa, atau nyaman dalam zona saya?

  2. Apakah saya berusaha meninggalkan kesempatan berdosa dan situasi yang merendahkan martabat saya?

Sinode dan Kehidupan Paroki

Sebagai pengurus, peserta diingatkan bahwa Sinode adalah pengalaman mendengar seluruh umat, bukan hanya para pemimpin. Paroki merupakan inkarnasi Yesus Kristus yang hidup di tengah umat, sehingga rasa memiliki harus terus dipupuk.

Kadang umat merasa hanya sebagai “umat biasa” dan menunggu arahan pengurus. Namun sebenarnya, setiap orang berperan aktif. “Seseorang masuk Gereja bukan untuk mapan, melainkan untuk diutus,” tegas Bapa Uskup, mengutip Iman Katolik hlm. 428.

Ia juga menyoroti tantangan paroki-paroki yang sering hanya menjadi “gudang pelayanan sakramental”. Padahal, tugas utama Gereja adalah pewartaan Injil.

Profesionalitas dan Identitas Pastoral

Dalam pelayanannya, Bapa Uskup mengingatkan tentang misericordia motus — gerakan belas kasih — yang harus menjadi jiwa pelayanan. Namun ada tantangan: antara profesionalitas dan identitas pastoral.

Banyak pengurus merasa bukan profesional dan minder dalam pelayanan. Padahal, yang dibutuhkan adalah kesediaan belajar dan melayani, bukan sekadar keterampilan teknis.

Spiritualitas Pelayanan

Beberapa pokok refleksi yang ditekankan:

  • Rasa memiliki (sense of belonging) menumbuhkan semangat untuk berkumpul dan berpastoral.

  • Iman bagaikan air sumur: jika tidak ditimba akan bau, jika tidak dibagikan menjadi sia-sia.

  • Gereja bukan hanya tempat menerima komuni atau pelayanan misa, melainkan tempat hidup beriman dan mewartakan Injil.

  • Tidak ada istilah “umat biasa” setelah selesai masa kepengurusan. Setiap orang tetap bertanggung jawab saling membantu dalam pelayanan.

  • Allah mengikat perjanjian, bukan kontrak. Ukuran keberhasilan pelayanan bukan semata prestasi, melainkan kasih.

Beliau menegaskan, pelayanan harus selalu diperbaharui. Dari pengalaman, terutama kegagalan, kita belajar untuk meningkatkan diri, bukan hanya berbangga pada keberhasilan

Simbolisme Pelayanan

Mgr. Vitus mengutip simbolisme dari Yohanes 13:3-5 tentang Yesus membasuh kaki murid-Nya.

  • Stola melambangkan jabatan.

  • Celemek melambangkan pelayanan.

“Menjadi pelayan bukan soal jabatan, melainkan kerendahan hati untuk membasuh kaki sesama,” tegasnya.

Beliau juga menyinggung ikon Sieger Köder, yang menggambarkan wajah Yesus terlihat pada kaki yang dibasuh. Konteplasi ini menuntun peserta pada makna pertobatan: menjadi hamba yang siap melayani dan melihat wajah Kristus pada sesama.

Siap melihat wajah kita di kaki orang lain.

Penutup

Rekoleksi yang penuh makna ini ditutup pada pukul 21.31. Para peserta telah dibekali dengan pesan kuat: jati diri Gereja adalah berjalan bersama, berpengharapan, dan melayani dalam kasih.

1st- Komsos Paroki St Paulus

Kasih Kristus Mendorong Kita

TERBARU

LIVE STREAMING
DUKUNGAN UNTUK PENGELOLAAN SITUS PAROKI
SCAN ME
logo-komsos-baru.png

JADWAL PELAYANAN & KEGIATAN