Search

Perjalanan Panggilan Pastor Gregorius Purba Nagara, SX

Loading

Syukur dan sukacita memenuhi hati umat Katolik, khususnya keluarga besar Serikat Xaverian, pada Kamis, 14 Agustus 2025. Bertempat di Paroki St. Matius Penginjil Bintaro.

 

Foto: Misionaris Xaverian Indonesia

Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, memimpin Tahbisan Imamat bagi tujuh putra terbaik Serikat Xaverian:

  1. Pastor Friwandi Nainggolan, SX

  2. Pastor Adrianus Safrudin, SX

  3. Pastor Gregorius Purba Nagara, SX

  4. Pastor Servasius Haryono, SX

  5. Pastor Yedrianus Mali, SX

  6. Pastor Willybordus Aditya Yudistira, SX

  7. Pastor Ambrosius Agung Surya Mentaram, SX

Bagi Paroki Santo Paulus, tahbisan ini memiliki makna khusus. Salah satu imam baru, Pastor Gregorius Purba Nagara, SX, pernah berkarya di tengah umat sebagai frater dan diakon. Selama masa formasinya, beliau setia mendampingi umat hingga akhirnya pada 31 Juli 2025 berangkat dari Paroki Santo Paulus menuju Jakarta untuk menerima rahmat tahbisan.

Cara Tuhan Memanggil itu Unik

Ga mau menikah? Jadi Imam Saja

Kisah panggilan saya untuk menjadi imam tidak lepas dari pengalaman saya akan sakramen perkawinan. Pertama-tama, saya lahir dari berkat perkawinan bapak dan  ibu saya. Berkat cinta mereka berdua, saya dapat tumbuh menjadi seorang anak Katolik. Mereka mengajari saya untuk beriman secara Kristiani meskipun terlahir di lingkungan yang mayoritas adalah muslim.

Masih terkait dengan sakramen perkawinan, niat awal saya untuk menjadi seorang imam bukanlah karena niat saya sendiri untuk menerima sakramen imamat, melainkan karena saya tidak ingin menikah atau menerima sakramen perkawinan. Waktu kecil, saya merasakan keruwetan tradisi lokal dan gereja sebelum menikah. Menikah itu sulit sekali, apalagi karena waktu kecil sering dimarahi oleh orang tua. Karena hal-hal tersebut, saya tidak ingin menikah. Di saat saya menyatakan niat saya untuk tidak menikah, ibu saya menerangkan bahwa kalau saya tidak mau menikah ya jadi romo saja. Pernyataan itu saya amini hingga saat ini.

 Ketika beranjak remaja, saya sebenarnya tidak terlalu menggagas apakah saya akan menjadi romo atau tidak. Hanya saja, ketika kelas 7, ada animasi panggilan dari seminari yang tiba-tiba saja mampir ke paroki saya. Saat itu saya mulai teringat akan penjelasan ibu saya dulu. Dari saat itulah saya merasa tertarik secara pribadi untuk masuk ke seminari.

Seminari adalah masa pengenalan yang lebih mendalam dan pemurnian motivasi untuk menjadi seorang imam. Di seminari inilah, saya menemukan panggilan saya untuk menjadi seorang misionaris. Saya membaca kisah-kisah para misionaris, khususnya St. Fransiskus Xaverius yang notabene adalah orang Eropa, berani untuk keluar dari negaranya pergi ke Asia untuk mewartakan Injil Tuhan.

Keinginan saya untuk menjadi misionaris di negeri yang jauh semakin hari semakin besar. Hal ini mendorong saya untuk mencari di internet kongregasi-kongregasi yang punya peluang besar untuk ke luar negeri. Saat pencarian itulah saya menemukan Serikat Misionaris Xaverian. Meskipun ada kongregasi lainnya yang memberikan peluang ke luar negeri, hanya Serikat Xaverian yang memberi kepastian bahwa saya akan bisa keluar negeri. Dari situlah saya memilih Xaverian.

Meskipun saya dengan sepenuh hati menjalani panggilan saya sebagai seorang Xaverian, tantangan tetap ada. Karena kelalaian saya, saya tidak bisa menjaga kesehatan saya dengan baik. Di tingkat kedua di Cempaka Putih, saya sakit cukup lama dan formator saat itu menyarankan saya untuk mengundurkan diri atau istirahat sementara. Saat itu, saya tidak ingin menyerah kepada panggilan saya dan saya menyampaikan aspirasi dan keteguhan hati saya kepada mereka sehingga mereka hanya menyarankan saya untuk istirahat penuh selama setahun. Jadi saya harus tinggal di luar komunitas selama setahun penuh dan menjadi umat biasa.

Ketika saya tinggal di luar dan juga merasakan kenikmatan tinggal di luar biara, saya pernah mengalami saat-saat di mana saya ingin menyerah saja dan memilih panggilan yang lain. Saya mengenal beberapa gadis dan ada yang sempat dekat namun pada saat itu saya tetap memilih untuk setia pada jalan pertama yang saya pilih. Akan tetapi, pergolakan besar bukanlah saat saya berada di luar komunitas, melainkan justru di saat saya berada di novisiat. Saya mengalami jatuh cinta, dan sempat saya bawa di dalam doa dan colloquium bersama magister novis. Tentu pilihan ada pada saya dan saya diberi waktu untuk berdiscernment terhadap panggilan saya.

Ternyata jatuh cinta itu indah. Saya merasakan jatuh cinta ini sebagai sebuah pengalmaan berahmat sebab ketika jatuh cinta, saya selalu ingin bersama dengan orang yang saya cintai. Saya ingin memeluknya, menciumnya dan bahkan tidak ingin lepas. Namun cara Tuhan sungguh luar biasa. Saya disadarkan bahwa rasa jatuh cinta ini juga membara di dalam panggilan saya. Rasa jatuh cinta kepada gadis membuat saya juga mencintai panggilan saya.  Saya tidak ingin melepas panggilan saya. Saya ingin memeluk, mencium dan terus bersama-sama dengan Tuhan melalui panggilan ini. Karena itu, godaan yang saya kira membuat saya lemah, justru menguatkan saya.

Tantangan tersebut memurnikan panggilan saya. Akan tetapi, tantangan berikutnya muncul dan lebih berat. Saya jatuh sakit lagi dan harus dioperasi sebanyak tiga kali dalam setahun. Penyakit ini pula yang membuat saya batal berangkat ke tempat misi yang sebelumnya sudah ditentukan. Dalam kesakitan itu, saya benar-benar menyerahkan diri kepada Tuhan. Sya tidak berpikir dan berimajinasi tentang banyak hal. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah apakah saya sudah benar-benar memanfaatkan hidup saya untuk Tuhan. Pertanyaan ini membawa saya kepada kesadaran bahwa saya belum membalas apa-apa terkait cinta Tuhan kepada saya.

Rasa putus asa karena sakit dan juga kehilangan semangat saat masa penyembuhan merubah sedikit karakter saya. Di dalam hati dan doa saya, sering saya memohon agar saya Tuhan menguatkan saya. Tentu pertolongan Tuhan sangatlah luar biasa. Justru dalam pengalaman itu, banyak orang yang mendoakan saya, banyak konfrater Xaverian yang menunjukkan cintanya kepada saya. Di situ saya merasa tidak sendirian. Tuhan hadir dalam berbagai cara dan persona. Ia hadir dalam berbagai hal yang justru tidak saya mengerti. Di situlah saya semakin yakin bahwa pilihan saya sebagai seorang misionaris Xaverian tidaklah salah.

Menjadi Misionaris di Luar Negeri

Singkatnya, saya dulu memilih SX karena saya ingin bermisi ke luar negeri yang jauh dari Indonesia. Nama Serikat Xaverian secara kebetulah terkait dengan nama St. Fransiskus Xaverius. Saya bermimpi bahwa saya kelak akan bermisi seperti Fransiskus Xaverius yang berani untuk meninggalkan kampung halamannya ke tempat yang jauh untuk mewartakan Injil Tuhan.

Lebih dari itu, pengalaman saya tinggal di dalam keluarga Serikat Xaverian membuat saya semakin jatuh cinta kepada panggilan misioner untuk mewartakan Injil Tuhan kepada orang-orang, khususnya yang ingin mengenal Kristus secara lebih mendalam. Rasa kekeluargaan, hidup doa, dan hidup misi membuat saya yakin bahwa pilihan saya untuk masuk Xaverian tidaklah salah. Saya bersyukur bahwa Tuhan menuntun saya untuk menjadi seorang misionaris Xaverian.

Makna “Misionaris” Bagi Saya

Gereja Katolik mengartikan bahwa misionaris adalah orang-orang yang diutus untuk mewartakan Injil Tuhan kepada siapapun. Misionaris bukanlah inti dari pewartaan melainkan pewarta. Intinya adalah Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, misionaris adalah sarana bagi karya keselamatan Tuhan. Bagi saya misionaris juga merupakan ungkapan cinta kasih Allah yang mendorong saya untuk berani membagikan pengalaman yang saya alami kepada sesama.

Karena itu, saya merasa bahwa misionaris adalah seorang pendoa yang ulung, pelajar yang tekun, pekerja yang setia dan pelayan dengan hati penuh kasih. Sebab dengan berdoa, seorang misionaris dapat mengenal kehendak Tuhan. Dengan belajar, misionaris dapat membuka cakerawala kepada kehadiran Tuhan dalam segala hal. Dengan bekerja dengan tekun, seorang misionaris dapat berbagi karya keselamatan Allah dengan segenap hati. Dan dengan penuh kasih, seorang misionaris dapat menjadi pengikut Kristus yang sejati. Semangat inilah yang saya minta kepada Tuhan agar aku miliki sebagai seorang misionaris.

Pastoral dalam Era Digital

Di era digital ini, pewartaan Injil melalui media sosial sangatlah luar biasa. Animo masyarakat luas dalam menggunakan media sosial membuat saya juga tidak lepas untuk terjun dan berbagi pengalaman pastoral serta berkatekese dengan baik dan bijak. Secara pribadi, saya tidak berkeberatan jika umat Kristiani dapat menggunakannya dengan baik dan bijak.

Meskipun katekese, pewartaan Injil dapat dilakukan secara digital, kehadiran kita secara fisik dalam berbagai pelayanan sakramen adalah vital dan tidak tergantikan. Bagaimanapun zaman berkembang dan berubah, kehadiran secara langsung dalam perayaan-perayaan sakramen tidaklah tergantikan. Oleh karena itu, meskipun konsep pastoral dalam era digital dapat membantu kita semua untuk mengenal Tuhan, kita juga perlu sadar, tahu, dan mau untuk hadir secara penuh, tubuh, pikiran, dan hati kita untuk menerima berkat Tuhan secara langsung dalam penerimaan sakramen-sakramen.

"Misi di tanah sendiri", maksudnya?

Ketika Yesus hendak naik ke surga, Ia mengutus para murid, ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Perutusan Yesus kepada para murid untuk pergi ke seluruh dunia menjadi dasar perutusan para rasul. Misi utama adalah pemberitaan Injil. Di manapun tempatnya, di tempat yang jauh sana atau bahkan di tanah sendiri, pemberitaan Injil tetaplah misi yang diberikan oleh Yesus kepada para rasul. Misi ini kemudian dilanjutkan oleh para penerus para rasul dan sampai pada panggilan hidup saya.

Mengartikan atau menerjemahkan misi di tanah sendiri menurut saya adalah kesia-siaan. Mengapa kesia-siaan? Bagi saya yang sebenarnya ingin sekali pergi bermisi di luar negeri, di luar tanah kelahiran saya, namun diutus di negeri sendiri, misi tetaplah misi. Tanah sendiri adalah bagian dari seluruh dunia dan itu adalah tempat bermisi. Dalam bermisi, yang paling penting adalah tujuan dan apa yang diwartakan, bukan hanya sekedar tempat namun tanpa membawa hakekat utama. Maka dari itu, seberapa jauh ataupun dekat tempat misi, namun tidak membawa Tuhan di dalamnya, misi adalah kesia-siaan. Sebaliknya, jika saya terus berusaha membawa Tuhan dalam misi saya di manapun saya berada, misi itu akan menghasilkan buah.

Profil Pastor Gregorius Purba Nagara SX

  • Nama : Gregorius Purba Nagara, SX
  • Tempat dan Tanggal Lahir : Malang, 17 Juni 1993
  • Baptis : Paroki St. Maria Ratu Damai Purworejo, 27 Juni 1993
  • Komuni Pertama : Paroki St. Maria Ratu Damai Purworejo, 13 Juni 2004
  • Krisma : Paroki St. Maria Ratu Damai Purworejo, 25 Agustus 2005
  • Anak dari
  • Ayah : Petrus Kanisius Parjito
  • TTL : Sleman, 9 Mei 1957
  • Ibu : Rosalia Widayati
  • TTL : Kulon Progo, 1 Oktober 1963
  • Anak ke : 3 dari 4 bersaudara, dengan nama saudara/i:
    • Anak pertama dari orang tua : Felisitas Fisyana Wara Palupi
    • Anak kedua dari orang tua : Basilius David Laura
    • Anak keempat dari orang tua  : Birgita Puspita Ningsih
  • Nama baptis : Gregorius Barbarigo
  • Nama Krisma : Ignasius dari Loyola

Formasi

  • SD : SDN Donomulyo IX 1999-2005
  • SMP : SMPK St. Albertus Donomulyo 2005-2008
  • SMA : SMAK Seminari St. Vincentius a Paulo Garum 2008-2012
  • Postulant : Bintaro 2012-2013
  • Filsafat : STF Driyarkara 2013-2018
  • Novisiat : Bintaro 2016-2017
  • Teologi : Loyola School Theology Manila 2018-2023
  • Kaul I : 1 Juli 2017
  • Kaul kekal : 28 Mei 2023
  • Tahbisan Diakon : 4 Oktober 2024
  • Kerasulan selama di Xaverian
  • Postulat : BIA St. Maria Regina Bintaro (2012) dan St. Matius Penginjil (2013)
  • STF1 (2013-2014) : Sekolah Sosial Pedongkelan dan Wahid Institute
  • STF2 (2014-2015) : Perpustakaan Wahid Institute
  • STF3 (2015-2016) : Istirahat
  • Novisiat 2016-2017: BIA St. Maria Regina Bintaro
  • STF4 (2017-2018) : Karya Sosial di Rumah Kerang bersama para suster PK Cilincing
  • Tahun Bahasa di Manila (2018-2019): Youth Formation di Paroki St. Fransiskus Xaverius Maligaya Park
  • Theology1 (2019-2020): Zone 7 Youth Formation
  • Theology2-3 (2020-2022): Covid
  • Theology4 (2022-2023): Chaplain Assistance Quezon City Jail (Male and Female)
  • Agustus 2023 – Desember 2023: Istirahat Total di Prokura SX Cempaka Putih dan Menjadi PJs Rumah Animasi Xaverian Yogyakarta
  • Januari 2024-April 2024 : PJs Biara Xaverian Padang
  • Mei 2024-Oktober 2024 : Frater Pastoral di Paroki St. Paulus Labuh Baru
  • Oktober 2024-Juli 2025 : Diakonat di Paroki St. Paulus Labuh Baru
  • 14 Agustus 2025 – Ditahbiskan sebagai Imam Misionaris Xaverian
Kasih Kristus Mendorong Kita

JADWAL PELAYANAN & KEGIATAN

TERBARU

LIVE STREAMING
DUKUNGAN UNTUK PENGELOLAAN SITUS PAROKI
SCAN ME
logo-komsos-baru.png