Search

“KASIH BUKANLAH SOAL PERASAAN MELAINKAN KOMITMEN”

Loading

Pada tanggal 25 Juni 2026. Komunitas Paguyuban Awam Xaverian Pekanbaru mendapatkan pembekalan yang disampaikan oleh Fr. Gironimo Gerardus SX dengan tema : ” 75 tahun Serikat Xaverian di Indonesia .”

Tahun ini Serikat Xaverian merayakan 75 tahun berkarya di Indonesia. Mari kita mengenal lebih dekat sejarah berdirinya Serikat Xaverian, sosok pendirinya, cita-cita misinya, serta perjalanan para misionaris Xaverian hingga akhirnya hadir dan berkarya di Indonesia.

Perjalanan sejarah Kongregasi Misionaris Xaverian berawal dari kehidupan seorang imam kudus, Santo Guido Maria Conforti, yang lahir pada 30 Maret 1865 di San Martino, Parma, Italia. Sejak masa kecilnya, Guido tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan, tetapi dibesarkan dengan semangat hidup sederhana dan penuh iman. Pengalaman rohani yang paling mendalam dialaminya ketika ia setiap hari berdoa di hadapan salib Yesus sebelum berangkat ke sekolah. Di hadapan Kristus yang tersalib, ia merasakan panggilan yang begitu kuat untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Pengalaman ini kemudian melahirkan ungkapan yang terkenal, “Aku memandang Dia, Dia memandang aku, dan Dia mengatakan banyak hal kepadaku.”

Pada usia empat belas tahun, Guido membaca riwayat hidup Santo Fransiskus Xaverius, pelindung karya misi. Kisah hidup santo besar itu membangkitkan kerinduan yang mendalam dalam dirinya untuk menjadi seorang misionaris dan melanjutkan karya pewartaan Injil, khususnya di Tiongkok. Meskipun demikian, jalan menuju cita-citanya tidaklah mudah. Ia mendapat penolakan dari ayahnya yang berharap ia melanjutkan usaha keluarga. Selain itu, permohonannya untuk bergabung dengan Serikat Yesus ditolak karena ia secara khusus menginginkan penugasan ke Tiongkok, sedangkan semangat Serikat Yesus menuntut kesiapsediaan untuk diutus ke mana saja sesuai kehendak Gereja. Guido juga pernah menghubungi Don Bosco dengan harapan dapat menjadi misionaris, tetapi suratnya tidak pernah mendapat balasan.

Akhirnya Guido memilih masuk Seminari Keuskupan Parma. Selama masa pendidikan, ia harus berjuang melawan penyakit epilepsi dan bronkitis yang hampir menggagalkan impiannya menjadi imam. Namun, melalui iman yang teguh dan doa yang tak putus, terutama setelah berziarah ke tempat ziarah Maria di Fontanellato, kesehatannya berangsur-angsur membaik. Pada tanggal 22 September 1888, ia ditahbiskan menjadi imam pada usia dua puluh tiga tahun.

Meskipun telah menjadi imam, Guido menyadari bahwa kondisi kesehatannya tidak memungkinkan dirinya diutus sebagai misionaris ke Tiongkok. Namun keterbatasan itu tidak memadamkan semangatnya. Ia justru menemukan panggilan yang lebih besar, yaitu membentuk dan mengutus orang lain untuk menjadi misionaris. Dari keyakinan inilah lahir gagasan mendirikan sebuah seminari yang secara khusus mempersiapkan para imam misionaris. Pada tanggal 3 Desember 1895 berdirilah cikal bakal Kongregasi Misionaris Xaverian, yang pada awalnya bernama Seminario Emiliano per le Missioni Estere. Kongregasi ini didirikan untuk melanjutkan semangat Santo Fransiskus Xaverius, yaitu membawa Kristus kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal-Nya.

Semangat hidup Santo Guido dirangkum dalam kalimat yang hingga kini menjadi inspirasi bagi keluarga besar Xaverian, yaitu, “Kasih bukanlah soal perasaan, melainkan komitmen.” Bagi Santo Guido, mencintai Tuhan tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam kesetiaan menjalankan kehendak Allah, sekalipun harus menghadapi penderitaan dan pengorbanan.

Daerah misi pertama Kongregasi Xaverian adalah Tiongkok. Para misionaris yang diutus menghadapi banyak tantangan, bahkan beberapa di antaranya mengalami kegagalan dan meninggal dunia. Namun semangat misioner tidak pernah surut. Situasi berubah drastis ketika pemerintahan komunis mengambil alih kekuasaan di Tiongkok pada awal tahun 1950-an. Semua misionaris asing dipaksa meninggalkan negeri itu dan mengungsi ke Hong Kong sambil menunggu penugasan baru dari Tahta Suci. Peristiwa ini menjadi titik balik yang membawa Kongregasi Xaverian memasuki berbagai negara baru, termasuk Indonesia.

Kehadiran Kongregasi Xaverian di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah Gereja di wilayah Padang. Pada awal abad ke-20, wilayah Padang masih menjadi bagian dari Vikariat Apostolik Batavia. Seiring berkembangnya jumlah umat dan luasnya wilayah pelayanan, pada tahun 1911 dibentuk Prefektur Apostolik Padang yang dipimpin oleh para imam Kapusin. Wilayah pelayanannya sangat luas, meliputi Aceh, Medan, Padang, Bangka Belitung, hingga Bengkulu. Luasnya wilayah tersebut membuat jumlah imam yang tersedia tidak lagi mencukupi.

Pada tahun 1951, Mgr. Brans, OFMCap., mengajukan permohonan kepada Tahta Suci agar dikirim tenaga misionaris tambahan. Pada saat yang sama, Vatikan sedang mencari daerah pelayanan baru bagi para Misionaris Xaverian yang telah diusir dari Tiongkok. Pertemuan antara kebutuhan Gereja di Indonesia dan kesiapsediaan para Misionaris Xaverian inilah yang akhirnya menjadi awal kehadiran mereka di tanah air.

Pada tanggal 24 Juli 1951, delapan Misionaris Xaverian pertama tiba di Medan. Mereka adalah Mario Boggiani, Antenore Nardello, Oddo Galeazzi, Pio Pozzobon, Vincenzo Capra,  Pietro Spinabell, Aurelio Canizzaro dan Lorenzo Lini. Kedelapan imam ini menjadi pelopor karya Xaverian di Indonesia. Mereka membawa pengalaman panjang sebagai misionaris di Tiongkok dan kini melanjutkan semangat pewartaan Injil di bumi Nusantara.

Setahun kemudian, pada tanggal 27 Juni 1952, Prefektur Apostolik Padang dibangun kembali dan dipercayakan kepada Kongregasi Xaverian. Mgr. Pasquale de Martino, SX, diangkat sebagai Prefek Apostolik pertama. Perkembangan Gereja di wilayah ini berlangsung dengan baik hingga akhirnya pada tanggal 3 Januari 1961 Padang resmi menjadi Keuskupan. Uskup pertamanya adalah Mgr. Raimondo Bergamin, SX. Beliau pernah mengungkapkan harapan yang sangat luhur, yaitu agar dirinya menjadi uskup asing yang pertama sekaligus terakhir, sehingga kelak Gereja di Padang dipimpin oleh putra-putra Indonesia sendiri. Harapan tersebut akhirnya terwujud ketika kepemimpinan Keuskupan Padang diteruskan oleh para uskup Indonesia.

Perjalanan hidup Santo Guido Maria Conforti dan sejarah masuknya Kongregasi Xaverian ke Indonesia mengajarkan bahwa karya Allah sering kali lahir melalui keterbatasan manusia. Santo Guido tidak pernah mewujudkan impiannya menjadi misionaris di Tiongkok. Namun melalui kongregasi yang didirikannya, ribuan misionaris telah diutus ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kehadiran mereka telah memberi sumbangan besar bagi pertumbuhan Gereja, khususnya di Keuskupan Padang.

Warisan terbesar Santo Guido bukan hanya sebuah kongregasi, melainkan semangat hidup yang terus menginspirasi hingga saat ini: mencintai Kristus dengan setia, siap diutus ke mana pun Gereja membutuhkan, serta mewartakan Injil melalui pelayanan yang tulus. Semangat inilah yang terus hidup dalam Kongregasi Misionaris Xaverian dan seluruh keluarga besar Xaverian, termasuk Paguyuban Awam Xaverian, yang dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah Gereja dan masyarakat.

Nilai-Nilai yang Dapat Diteladani

Dari perjalanan hidup Santo Guido Maria Conforti dan sejarah Kongregasi Xaverian, terdapat beberapa nilai penting yang dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang, yaitu:

  • Kesetiaan pada panggilan Tuhan, meskipun menghadapi banyak tantangan.
  • Kasih yang diwujudkan melalui komitmen, bukan sekadar perasaan.
  • Semangat misioner, yaitu kerinduan agar semakin banyak orang mengenal Kristus.
  • Keberanian menghadapi kegagalan, tanpa kehilangan harapan.
  • Kesiapsediaan untuk diutus, ke mana pun Gereja membutuhkan pelayanan.
  • Semangat membangun Gereja lokal, dengan mempersiapkan pemimpin-pemimpin dari bangsa sendiri.

Kesimpulan

  • Sejarah Kongregasi Misionaris Xaverian menunjukkan bahwa karya Allah sering lahir melalui keterbatasan manusia. Santo Guido Maria Conforti tidak pernah menjadi misionaris di Tiongkok seperti yang dicita-citakannya. Namun melalui kongregasi yang didirikannya, ribuan misionaris telah diutus ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
  • Kehadiran Xaverian di Indonesia bukanlah suatu kebetulan, melainkan bagian dari penyelenggaraan Allah. Melalui semangat Santo Guido Maria Conforti, Gereja di Indonesia, khususnya Keuskupan Padang, memperoleh tenaga misionaris yang telah memberikan sumbangsih besar bagi pertumbuhan iman umat. Hingga kini, semangat “Kasih bukanlah soal perasaan, melainkan komitmen” tetap menjadi dasar pelayanan para Misionaris Xaverian dan seluruh keluarga besar Xaverian dalam mewartakan Injil dan membangun Gereja.
Resume oleh Rostiana Tinambunan - PAX Pekanbaru
Kasih Kristus Mendorong Kita

JADWAL PELAYANAN & KEGIATAN

TERBARU

LIVE STREAMING
DUKUNGAN UNTUK PENGELOLAAN SITUS PAROKI
SCAN ME
logo-komsos-baru.png