![]()
Kalau hari ini saya bertanya, “Siapa yang sedang lelah?”, mungkin hampir semua dari kita akan mengangkat tangan. Ada yang lelah karena pekerjaan, keluarga, masalah ekonomi, sakit, bahkan ada yang lelah secara batin. Di luar tampak tersenyum, tetapi di dalam hati sedang menangis.
Kepada orang-orang seperti itulah Yesus berkata dalam Injil hari ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Perhatikan, Yesus tidak berkata bahwa semua masalah akan langsung hilang. Ia juga tidak menjanjikan hidup tanpa salib. Yang Ia janjikan adalah kelegaan hati. Damai yang membuat kita tetap mampu melangkah, meskipun persoalan hidup belum selesai.
Lalu Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang.” Sekilas ini terdengar aneh. Mengapa orang yang sudah lelah justru diminta memikul kuk? Pada zaman Yesus, kuk dipasang pada dua ekor lembu yang berjalan bersama. Biasanya ada lembu yang lebih kuat untuk menuntun dan menanggung beban yang lebih besar. Itulah gambaran yang dipakai Yesus. Ketika kita memikul kuk bersama-Nya, sebenarnya Yesus sedang berkata, “Jangan memikul hidupmu sendirian. Biarkan Aku berjalan bersamamu.”
Sering kali yang membuat kita semakin lelah bukan hanya karena beratnya masalah, tetapi karena kita merasa harus menghadapi semuanya sendiri. Kita lupa melibatkan Tuhan. Kita lebih banyak mengandalkan kekuatan sendiri daripada bersandar pada kasih-Nya.
Karena itu Yesus juga berkata, “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Hati yang rendah hati tahu kapan harus berserah. Hati yang percaya tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.
Hari ini, apa pun beban yang sedang kita pikul, jangan menjauh dari Tuhan. Justru datanglah lebih dekat kepada-Nya. Sebab ketika kita berjalan bersama Kristus, mungkin salib itu tetap ada, tetapi kita tidak lagi memikulnya sendirian.
.
#katolikadgentes