![]()
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.
Mat 15:11
Pernahkah kita melihat sebuah rumah yang tampak indah dari luar, tetapi ternyata rapuh di dalam? Atau buah yang kulitnya mulus, tetapi isinya busuk? Yesus memakai kenyataan itu untuk mengingatkan kita bahwa Allah selalu melihat hati, bukan sekadar penampilan.
Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi mempersoalkan murid-murid Yesus karena tidak mencuci tangan menurut adat istiadat. Bagi mereka, yang terpenting adalah aturan dan penampilan lahiriah. Tetapi Yesus mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang jauh lebih penting. Ia berkata, bukan apa yang masuk ke mulut yang menajiskan manusia, melainkan apa yang keluar dari hati.
Dengan kata lain, yang membuat seseorang jauh dari Tuhan bukan pertama-tama soal ritual yang terlewat, melainkan hati yang dipenuhi kebencian, kesombongan, iri hati, dusta, dan sikap suka menghakimi.
Injil ini mengajak kita bercermin. Bisa saja kita rajin mengikuti Misa, tekun berdoa, aktif melayani, tetapi kalau kita masih sulit mengampuni, mudah memfitnah, atau merendahkan orang lain, berarti ada bagian dalam hati kita yang masih perlu dibersihkan.
Yesus tidak menolak aturan. Aturan tetap penting. Tradisi juga berharga. Tetapi semuanya harus membawa kita kepada kasih. Sebab agama tanpa kasih hanya menjadi kebiasaan. Ibadah tanpa pertobatan hanya menjadi rutinitas.
Setiap kali kita datang ke gereja, Tuhan tidak hanya ingin kita pulang dengan pengetahuan yang lebih banyak, tetapi dengan hati yang lebih bersih. Sebab hati yang bersih akan menghasilkan perkataan yang baik, tindakan yang penuh kasih, dan hidup yang menjadi berkat bagi sesama.