![]()
Pertemuan II Paguyuban Awam Xaverian dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 19.30 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Conforti, Paroki Santo Paulus Pekanbaru. Pertemuan ini mengangkat tema “Mengenal Lebih Dekat Santo Guido Conforti melalui Buku Studi 1: Conforti – Jalan Mendaki Menuju Imamat” dengan pemateri Fr. Daniel Munthe, SX.
Pertemuan diawali dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Fr. Daniel Munthe. Selanjutnya disampaikan pengantar oleh Ibu Huiniati yang menekankan pentingnya kebersamaan serta semangat untuk semakin mengenal spiritualitas Santo Guido Conforti.
Sejak tahun 1872, Guido tinggal bersama keluarga Maini di Parma. Dalam masa ini, terbentuk kemandirian serta pendalaman iman, terutama melalui pengalaman doa di Oratorio yang memperkenalkan makna salib Kristus. Pengalaman iman tersebut menumbuhkan kesadaran panggilan untuk hidup sebagai Katolik secara total, dengan salib sebagai pusat kehidupan. Pengalaman akan “tatapan penuh cinta” dari Yesus menjadi titik penting dalam perubahan hidupnya.
Perjalanan panggilan tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan yang digambarkan sebagai “tiga salib”, yaitu ketaatan kepada ayah termasuk kewajiban militer, penderitaan penyakit epilepsi serta kondisi fisik yang lemah, dan keterlambatan dalam menerima tahbisan. Dalam prosesnya, rahmat Tuhan dinyatakan melalui kesempatan masuk seminari pada 4 November 1876, pemulihan kondisi kesehatan, hingga akhirnya menerima tahbisan imamat pada 22 September 1888. Misa perdana dilaksanakan di Santuarium Bunda Maria di Fontanellato.
Nilai spiritualitas yang ditekankan dalam pertemuan ini adalah pemahaman bahwa cinta bukan sekadar perasaan, melainkan komitmen. Hidup panggilan menuntut kesetiaan, pengorbanan, dan ketekunan.
Dalam sesi sharing dan diskusi, peserta diajak merefleksikan peran keluarga dalam menumbuhkan iman, pengalaman pribadi dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, serta komitmen dalam menghidupi panggilan sebagai awam Xaverian.
Sebagai kesimpulan, kehidupan Santo Guido Conforti menunjukkan bahwa panggilan lahir dari pengalaman iman yang mendalam. Tantangan hidup dipahami sebagai sarana pertumbuhan, sementara komitmen menjadi inti dari cinta kepada Tuhan dan sesama.
Pertemuan ditutup dengan harapan agar nilai-nilai spiritualitas Santo Guido Conforti semakin dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.
Rostinana Tinambunan