![]()
2–3 Juli 2025
Seksi Liturgi Paroki Santo Paulus mengadakan kegiatan Rekoleksi dan Ziarah pada tanggal 2–3 Juli 2025. Rekoleksi dilaksanakan di Stasi Santa Clara, Pulau Rupat, Riau, yang merupakan bagian dari Paroki Santo Fransiskus Xaverius Dumai.
Perjalanan diawali dengan ziarah bersama ke Porta Sancta Maria Nirmala Santo Paulus, dan ditutup dengan ziarah ke Posta Santa di Paroki Santa Maria a Fatima, Pekanbaru.
Tantangan Perjalanan
Waktu perjalanan mengalami perubahan di luar rencana karena kapal penyeberangan dari Dumai ke Pulau Rupat mengurangi operasional, demi membantu transportasi ke tujuan lain. Hal ini menyebabkan keterlambatan rombongan Seksi Liturgi tiba di Pulau Rupat.
Selain itu, akses jalan menuju Gereja Stasi Santa Clara tidak kondusif untuk dilalui bus berisi 31 orang. Rombongan akhirnya mengambil jalur memutar, dipandu langsung oleh Ketua Stasi — Bapak Martinus, yang segera datang setelah diminta bantuan untuk menunjukkan arah jalan.
Peserta Rekoleksi
Peserta kegiatan ini adalah anggota Tim Liturgi dari pusat paroki dan beberapa stasi, yaitu:
- Stasi Santo Filipus Arengka Ujung
- Stasi Santa Agatha Tarai Bangun
- Stasi Santo Yohanes Don Bosco Rajawali
- Stasi Santa Lusia Rumbai
- Stasi Santa Monika Mejuahjuah
- Stasi Santa Theresia Kanak-kanak Yesus Takuana
- Stasi Santa Veronika Palas
- Stasi Santa Agnes Muara Beringin
- Stasi Santa Elisabeth Muara Fajar
- Stasi Santa Cecilia Siabu
- Stasi Santo Fransiskus Xaverius Bukit Payung
- Stasi Santo Rafael PT Johan
- Stasi Santo Martinus Sari Galuh
- Stasi Santo Dominikus Tambusai
Hanya tiga stasi yang berhalangan hadir dalam kegiatan ini.
Isi Rekoleksi
Rekoleksi terdiri dari tiga sesi, dibawakan oleh Pastor Yakobus I Made Suardana, SX (Pastor Kadek), sebagai berikut:
- Sesi 1: 2 Juli 2025 setelah makan malam
- Sesi 2: Saat homili dalam Misa Pagi pukul 07.00
- Sesi 3: Setelah Misa selesai
Sesi pertama dibuka dengan Injil tentang Yesus membasuh kaki para murid.
Tema utama sesi ini adalah:
“Karena Yesus memiliki kasih, maka Ia terpanggil untuk melayani.”
Karena Kasih Kristus.
Sebagai petugas liturgi, kadang kita merasa sulit untuk meluangkan waktu, atau merasa ini hanya sebatas tugas. Kita bisa saja melayani karena “tidak ada orang lain”, atau “yang penting tugas jalan saja”. Ini adalah kondisi di mana pelayanan menjadi beban, karena ada harapan tersembunyi — ingin dihargai, ingin diakui.
Yesus — sebagai Guru — justru melakukan pekerjaan seorang hamba: membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia memberi teladan kerendahan hati.
Karena itu, moral pelayanan yang perlu dihayati adalah:
“Yang menggerakkan pelayanan kita adalah Kasih Kristus.”
Caritas Christi Urget Nos.
Pelayanan Liturgi: Panggilan Kasih
Tugas Seksi Liturgi adalah menjadi fasilitator agar umat dapat mengalami kehadiran Allah. Maka pelayanan liturgi mesti dilakukan:
- Dengan kasih
- Sebagai satu tubuh
- Dalam sukacita
Perayaan Ekaristi adalah perayaan atas apa yang Tuhan lakukan bagi kita — yaitu pelayanan — bukan semata apa yang kita lakukan.
Namun kadang kita terjebak pada hal teknis: koor yang bagus, dekorasi yang megah. Bahkan bisa terjadi gesekan, saling bersinggungan, atau pelayanan dilakukan dengan “mulut kerucut”.
Tanpa Kasih Kristus, pelayanan liturgi hanya menjadi rutinitas kosong. Tapi dengan kasih, sekecil apa pun peran kita, itu tetap berharga dan bermakna.
Pertanyaan Refleksi
Beberapa pertanyaan yang diajak untuk direnungkan:
- Sudahkah Kasih Kristus menjadi alasan utama saya dalam melayani?
- Maukah saya belajar untuk rendah hati?
- Apakah saya tetap setia melayani meski tanpa pujian?
- Bagaimana saya menjaga semangat dan sukacita dalam pelayanan ini?
“Pelayanan liturgi menjadi bermakna ketika dilihat dari relasi antara pelayan dan Tuhan, bukan dari pengakuan manusia.”
Dokumentasi dan Editing: Komsos St Paulus Pekanbaru