![]()
Setiap orang pasti pernah mengalami badai dalam hidup. Yang menjadi pertanyaan bukanlah, “Apakah badai akan datang?” Tetapi, kepada siapa kita memandang ketika badai itu datang? Itulah pesan Injil hari ini.
Para murid sedang berada di tengah danau. Angin bertiup kencang, ombak menghantam perahu mereka. Mereka sudah berjuang sekuat tenaga, tetapi badai tidak juga reda. Lalu Yesus datang berjalan di atas air dan berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Kalimat itu juga untuk kita hari ini, Tuhan tidak selalu menghilangkan badai hidup kita, tetapi Dia selalu hadir di tengah badai itu. Kehadiran-Nya sering kali jauh lebih penting daripada hilangnya persoalan.
Kemudian Petrus berkata, “Tuhan, kalau benar Engkau, suruhlah aku datang.” Dan selama matanya tertuju kepada Yesus, ia mampu berjalan di atas air. Tetapi ketika ia mulai melihat angin dan ombak, ia menjadi takut dan mulai tenggelam.
Di sinilah kita menemukan diri kita. Selama kita memandang Kristus, kita memiliki harapan. Tetapi ketika kita hanya memandang masalah, kita mulai dikuasai kecemasan. Bukan karena Tuhan menjauh, melainkan karena fokus kita berubah.
Ketika Petrus mulai tenggelam, ia hanya berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Injil mengatakan, Yesus segera mengulurkan tangan-Nya. Tuhan tidak membiarkan Petrus tenggelam. Demikian juga Tuhan tidak akan membiarkan kita berjuang sendirian. Mungkin hari ini kita sedang membawa badai masing-masing. Jangan biarkan rasa takut lebih besar daripada iman. Jangan biarkan masalah lebih memenuhi pikiran kita daripada kehadiran Kristus.
Mari kita belajar dari Petrus. Jika hari ini kita merasa mulai tenggelam karena beban hidup, jangan malu berdoa dengan doa yang sangat sederhana, “Tuhan, tolonglah aku.” Doa itu cukup, karena Tuhan selalu mendengar seruan anak-anak-Nya.
.
#katolikadgentes